Abu Qudamah Syamsidar Mahyan Su’ud

PANDUAN ILMU TAJWID

 

 

Lembaga Studi Islam dan Bahasa Arab ( L-SIBA ) Imam Asy-syafi’iy

Singkawang

                                                              

 

 

 

                                                                MUQODDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد:

          Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menganugrahkan kepada kita Al-Quran sebagai pedoman kehidupan, yang seseorang tidak akan pernah tersesat selama nya selagi ia berpegang kepadanya(Al-Quran),dan Alloh Ta,ala telah menjadikan  membaca Al-Quran adalah salah satu ibadah yang agung,dan zikir yang paling utama , sehingga seseorang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkan nya merupakan sebaik-baik manusia yang ber amal di bawah kolong langit ini.

Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk di ibadahi dengan benar kecuali Alloh Ta,ala yang Maha Tinggi dan Maha Agung.dan saya bersaksi bahwa Muhammad bin Abdulloh bin Abdul muthollib al-Quraisy  adalah hamba Alloh Ta,ala dan RasulNya.

Ketahuilah Saudara muslim..,bahwasanya diantara amal-amal yang Alloh Ta,ala utamakan adalah membaca Al-Qur’anul karim,sebagai mana firmanNya:                                إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُـمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُـورَهُمْ وَيَـزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَـفُـورٌ شَكُـورٌ

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Alloh, (al-Quran) dan mendirikan sholat dan menginfaqkan sebagian rizqi yang kami anugrahkan kepada nya dengan diam-diam dan terang –terangan ,mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak rugi ,agar Alloh menyempurnakan pahala nya kepada mereka dan menambah karuniaNya. Sungguh Alloh Maha Pengampun,Maha Mensyukuri.( Al-fathir :29-30 )

Dan Rasululloh sholallahu alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaan mempelajari dan membaca Al-Quran Beliau bersabda ;   Dari Sahabat Utsman bin Affan. “ Sebaik – baik kalian adalah yang belajar Al- Quran dan mengajarkan nya” (HR.Al-Bukhori)

Rasululloh sholallahu alaihi wasallam bersabda ;” Bacalah Al-Quran karena ia akan datang pada hari qiyamat sebagai pemberi syafaat bagi pembaca nya(HR.Muslim dari Abu Umaamah)

Dari An-Nawwas bin Sam’an dia berkata , aku mendengar Rasululloh bersabda ; di datang kan pada hari qiyamat Al-Quran dan para pembacanya yang mereka itu dulu mengamalkan nya di dunia dengan di dahului surah Al-Baqarah dan Ali Imron yang membela pembaca kedua surah ini (HR.Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ,berkata :Rasululloh bersabda : Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Alloh ta’ala maka bagi nya satu kebaikan ,dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat ,aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf , tetapi alif satu huruf, lam satu ,mim satu huruf.(HR.Tarmidzi,beliau berkata;hadits hasan shohih )

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallohu anhuma.bahwa Rasululloh bersabda : di kata kan pembaca Al-Quran ; bacalah , naik lah dan baca lah dengan pelan sebagai mana yang kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca ( HR. Abu Daud dan Tarmidzi beliau mengatakan: hadits hasan shohih)

Dari Aisyah rodhiallohu ‘anhaa berkata: Rosululloh bersabda: orang yang membaca Al Qur’an dengan mahir adalah bersama para mlaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al Qur’an dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala ( Hadits muttafaqun ‘alaih). Dikatakan oleh para ulama yang dimaksud dengan dua pahala yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

Dari ibnu umar rodiallohu ‘anhu Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda: tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara yaitu orang yang dikaruniai Alloh Al Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang dan orang yang dikaruniai Alloh harta lalu diinfaqkannya pada waktu malam dan siang (hadits muttafaqun alaih). Yang dimaksud dengan hasad disisni yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain (lihat kitab Riyadhusshoolihin’ halaman 467 – 469)Rasululloh bersabda : sesungguh nya Alloh mempunyai dua ahli di antara manusia ,sahabat bertanya :siapa mereka itu wahai Rasululloh ? Beliau menjawab  : Ahli Al-Quran adalah Ahli Alloh Ta’ala dan Orang Nya yang khusus (HR.Ahmad, Ibnu Majah)

Banyak dalil-dalil yang menunjuk kan kepada kita tentang perintah untuk mempelajari Al-Qur’an ,dimulai dari membaca ,mentadabburi,dan mengamalkannya baik dalam Al-Qur’an atau sunnah yang shohih.

Risalah yang di hadapan para pembaca ini,adalah secuil dari pembahasan ringkas dari Ilmu tajwid yang luas,yang mana saya mencoba untuk ikut andil untuk mengenalkan kepada saudara muslim tentang hukum- hukum dan kaidah- kaidah dalam Ilmu Tajwid ,Risalah ini bermula dari pandangan dan penilain penyusun , ketika melihat fenomena di masyarakat muslim khusus nya pada saat sekarang ini, banyak yang meninggalkan Al-Qur’an ,baik dari segi pengamalan nya,pemahaman,dan tidak membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan hukum-hukum dan kaidah tajwid.

Akhir nya saya berharap Risalah yang ringkas ini , sedikit banyak dapat memberikan manfaat bagi saya ,keluarga,dan umum nya saudara muslim sekalian,dengan meminta pertolongan kepada Alloh Ta’ala agar kiranya di mudah kan segala  upaya tersebut dalam rangka mengharapkan pahala dari Alloh Ta’ala semata,  InsyaAlloh.

Alhamdulillahirobbil‘aalamiin

Singkawang . Maret  2012

                                   Abu Qudamah Syamsidar Mahyan Su’ud

Sejarah Al-qur’an

Sejarah menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan selama kurun waktu 22 tahun. 2 bulan, 22 hari (sebagian pendapat menyatakan 23 tahun). Sejak kurun waktu itu pula telah dimulai pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an. Setiap kali wahyu turun, Nabi Muhammad memerintahkan para sahabat untuk menghafal dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar dan apa saja yang bisa dipakai sebagai alat-tulis.

Nabi juga menerangkan bagaimana ayat-ayat itu mesti disusun dalam surat-surat (tauqifi). Pada waktu itu Nabi membuat peraturan bahwa hanya wahyu (ayat-ayat yang diturunkan) saja yang boleh dituliskan. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari bercampurnya antara catatan ayat (wahyu) dengan hadits (bentuk-bentuk penjelasan dari Nabi) sehingga ayat yang tertulis di dalam Al-Qur’an hanyalah dari Allah Ta’ala semata.

Pada jaman Khalifah Abu Bakar, banyaknya sahabat penghafal Al Qur’an yang gugur di medan perang menimbulkan kekhawatiran Umar bin Khatab, oleh sebab makin berkurangnya para sahabat yang hafal Al-Qur’an. Atas usul Umar bin Khatab kepada Khalifah Abu Bakar, dimulailah proses pengumpulan catatan dan tulisan wahyu untuk ditulis ke dalam lembaran-lembaran yang terkumpul. Pada jaman Khalifah Utsman bin Affan dibentuklah panitia dengan ketua Zaid bin Tsabit.

Panitia itu bertugas untuk menyusun kitab yang disebut Al Mushaf. Oleh panitia tersebut berhasil ditulis lima buah Mushaf. Empat buah diantaranya, masing-masing sebuah dikirim ke Makkah, Syiria, Basrah dan Kufah. Untuk Khalifah Utsman sendiri satu buah yang kemudian disebut Mushaf Al Imam. Dengan selesainya pem-buku-an Al-Qur’an, Khalifah Utsman memerintahkan untuk membakar dan memusnahkan semua tulisan atau lembaran-lembaran catatan Al-Qur’an yang pernah ditulis sebelumnya. Mushaf dari jaman Khalifah Utsman bin Affan itulah yang kemudian ditetapkan menjadi standar, penyalinan Al-Qur’an bagi kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia, termasuk Al-Qur’an yang kita kenal dewasa ini di Indonesia. Oleh karena mengikuti standar penulisan Al-Qur’an pada jaman Khalifah Utsman, maka disebut Al-Qur’an Utsmani.

Pada mulanya mushaf Al-Qur’an yang ditulis oleh para sahabat tidak dilengkapi dengan pencantuman tanda-bantu baca. Oleh karena para sahabat dan para tabi’in adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, yaitu bahasa yang menjadi standar penulisan Al-Qur’an. Oleh karenanya hal ini tidak menimbulkan masalah. Namun seiring dengan makin tersiarnya agama Islam diantara bangsa-bangsa non-Arab, timbul kekhawatiran akan terjadinya kesalahan pembacaan Al-Qur’an.

Kesalahan pembacaan mempunyai risiko terjadinya perubahan arti atau pengertian. Oleh karenanya, pada masa dinasti Muawiyah, Abul Aswad Ad Duali berinisiatif untuk mencantumkan tanda-bantu baca yang dituliskan dengan tinta yang berbeda warnanya dengan tulisan Al-Qur’an. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh generasi– generasi berikutnya. Oleh karena makin lama tanda-bantu baca ini makin sama warna dengan tulisan Al-Qur’an, maka justru menyulitkan pembacanya, sehingga perlu dilakukan penyederhanaan tanpa mengurangi maksud. Kemudian Al Khalil berinisiatif memperbaharui tanda-bantu baca tersebut. Usaha ini terus berlanjut, tanda-bantu baca mengalami proses penyempurnaan menuju bentuk tanda-bantu baca seperti yang ada pada masa kini.

Penyebutan dengan istilah tanda-bantu baca dan bukan tanda-baca disini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa pada satu sisi, bagi mereka yang telah fasih/menguasai bacaannya, mampu membaca tanpa bantuan tanda-baca.

Namun pada sisi yang lain, oleh karena Al-Qur’an diturunkan untuk semua umat, baik bagi mereka yang telah fasih maupun baru belajar, kepada mereka yang berasal dari latar-belakang pendidikan yang beraneka ragam, baik bagi mereka yang berbahasa ibu, bahasa Arab maupun bukan, dan sebagainya, maka pencantuman tanda-baca untuk membantu siapapun yang berkehendak untuk mempelajari Al-Qur’an tetaplah diperlukan. Apalagi kita yang hidup di masa sekian abad setelah masa para sahabat dan tabi’in. Bahkan, bagi yang telah fasihpun masih memerlukannya untuk mengontrol pengucapan. Apalagi bila ditinjau dari penghayatan makna, maka “membaca” Al-Qur’an bukanlah ‘sekedar’ membaca. Oleh karena sifatnya yang membantu itulah, maka dalam hal ini disebut dengan istilah tanda-bantu baca. Dengan pengertian yang sama, maka setiap tanda yang berperan membantu dalam proses mempelajari Al-Qur’an disebut dengan tanda-bantu.

Uraian di atas memperjelas bahwa pengumpulan teks-teks wahyu yang kemudian dituliskan dan disusun ke dalam bentuk kitab, merupakan suatu keharusan sejarah yang sangat penting bagi pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an dan kesinambungan penyampaiannya kepada generasi-generasi yang datang kemudian. Bagi para sahabat yang hidup sejaman dengan Nabi maupun para tabi’in yang masa hidupnya masih dekat dengan masa para sahabat, informasi yang berhubungan dengan penjelasan maksud pesan yang terkandung dalam wahyu, dengan mudah dapat diperoleh dari sumber yang terpercaya. Namun bagaimanakah halnya generasi-generasi yang hidup di masa jauh setelah masa para sahabat dan tabi’in? Dan sini dapat dinilai betapa keputusan untuk membukukan Al-Qur’an mempunyai nilai yang sangat penting dan amat strategis dalam sejarah perkembangan Islam. Betapa jauh visi yang dimiliki oleh para sahabat, yakni visi yang diajarkan dan dipelopori oleh Rasulullah .

Rasululloh juga memberi contoh kepeloporan pada umatnya untuk menghargai ilmu-pengetahuan. Kebebasan para tawanan perang ditebus dengan mengajarkan pengetahuan tulis-baca kepada umat Islam yang buta huruf. Menurut salah sebuah Hadits, Rasulullah pernah bersabda: “Di akhirat nanti tinta para ulama akan ditimbang dengan darah syuhada”. Tulis-baca (dalam arti luas) adalah kunci ilmu-pengetahuan yang merupakan alat berkomunikasi untuk dapat menembus, melintasi dan menjelajahi sudut-sudut ruang kehidupan dari jaman ke jaman dengan segala bentuk manifestasinya. Menurut HR Bukhari, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, Rasululloh  mendengar suara keriut-keriut goresan qalam (lihat kutipannya dalam Bab 05, qalam diterjemahkan dengan “pena”). Pelestarian dan pemeliharaan kemurnian serta penyiaran warisan Rasulullah dalam bentuk Kitab Suci Al-Qur’an kitab yang berisi sandi tertulis dan risalah yang dibawakan oleh Rasulullah terus berlanjut dari generasi ke generasi. Mulai dan salinan dalam bentuk tulisan tangan langsung hingga bentuk penggandaan dengan bantuan alat-cetak. Aktifitas demikian ini telah menjadi tradisi umat Islam, yang sarat dengan kisah-kisah spiritual yang menyertainya. Bukankah ditegaskan bahwa Al-Qur’an terjamin kemurniannya [QS.15:9]? Bukankah membaca dan mempelajarinya pun bernilai ibadah? Proses penulisan AI-Qur’an yang telah bermula sejak jaman Nabi Muhammad , didukung oleh kebijakan beliau dalam meningkatkan kemampuan tulis-baca bagi umatnya, bergulir menuju dialog antara dua sahabat: Umar bin Khaththab dan Abu Bakar.Dialog antara dua sahabat itu juga membahas tentang pentingnya catatan wahyu dikumpulkan dan disusun, yang pada akhirnya tersusun dalam bentuk standarisasi penulisan Al-Qur’an pada jaman khalifah Utsman bin Affan. Perjalanan sejarah penyiaran Al-Qur’an seiring dengan makin tersiarnya agama Islam ke segala penjuru, melahirkan penambahan tanda-bantu yang dicantumkan pada kitab Al-Qur’an tanpa mengganggu salinan teks asli ayat yang telah distandarisasikan. Pencantuman tanda-bantu dimaksudkan untuk membantu para pengkaji Al-Qur’an agar dapat lebih mudah memahami bacaannya, sekaligus juga dimaksudkan untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahfahaman atas arti yang terkandung di dalam teks-teks wahyu.

Perjalanan sejarah penyalinan Al-Qur’an dengan berpegang pada standar Utsmani sebagai bagian integral dan pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an adalah warisan budaya ilmu pengetahuan, budaya baca-tulis dan etika penulisan serta tradisi untuk memelihara yang haq. Perjalanan sejarah inipun menjadi perjalanan sejarah sistematika AI-Qur’an. Sistematika yang berupa tertib-urut ayat dan surat, sistem pembagian ruku’ dan juz, beserta segala kelengkapan tanda-bantu yang menyertainya. Secara keseluruhan, sistematika tersebut membentuk format penyalinan Al-Qur’an, atau disingkat dengan format Al-Qur’an, dan tercantum dalam mushaf berbentuk kitab yang telah sangat kita akrabi. Sebagai bagian dan tradisi memelihara yang haq, maka format penyalinan mushaf Al-Qur’an sudah barang tentu mengandung maksud untuk membantu umat dalam mempelajari dan mengkaji pesan-pesan Al-Qur’an. Tradisi memelihara yang haq, memelihara kemurnian Al-Qur’an, adalah tradisi beribadah yang tunduk kepada inayat Allah seperti tercantum dalam Al-Qur’an.

2. Dua halaman paling awal dari halaman-halaman penulisan ayat, dicetak dalam bentuk lebih khusus bila dibandingkan dengan halaman-halaman selanjutnya. Kedua halaman itu adalah:

Halaman 2, berisi surat A1-Faatihah, ayat 1-7.

Halaman 3, berisi beberapa ayat paling awal dari surat Al-Baqarah.

3. Teks ayat. Oleh karena demikian banyaknya (6236 buah ayat), tidak dapat disebutkan satu persatu dalam buku ini karena terbatasnya ruang. Pembaca dapat mencermati sendiri dari berbagai bentuk cetakan mushaf yang telah banyak beredar. Ciri-ciri standar seperti tersebut di atas yaitu mengikuti standar Utsman menjadi ciri pokok dan bersifat umum pada semua jenis format-cetak mushaf. Di samping ciri umum, juga terdapat ciri khusus pada bentuk format-cetak. umum dan ciri khusus itu hadir bersama dalam bentuk sebuah tipe-format kitab cetakan mushaf, disingkat tipe format atau format mushaf.

Keutamaan Membaca Al-Qur`an

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallambersabda:
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلَاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَـلَاتِهِ خَـيْـرٌ لَـهُ مِنْ ثَلَاثِ خَـلِفَـاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ
“Apakah salah seorang dari kalian suka jika ketika dia kembali kepada isterinya, di rumahnya dia mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting lagi gemuk-gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian di dalam shalatnya adalah lebih baik daripada ketiga ekor unta yang bunting dan gemuk itu.” (HR. Muslim no. 802)
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka ba­ginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu senilai dengan se­puluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf.” (HR. At-Tirmizi no. 2910 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Takhrij Ath-Thahawiah no. 158)
Dari ‘Aisyah radhiallahu anhda dia berkata: Rasulullah shallal­lahu‘alaihiwasallambersabda:
الْـمَـاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُـرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِـيـهِ وَهُوَ عَـلَـيْـهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Semen­tara orang yang membaca Al-Qur`an dengan tertatah-tatah dan dia sulit dalam membacanya, maka dia mendapatkan dua pahala.”(HR. Muslim no. 798)                                         

Penjelasan ringkas:
Al-Qur`an adalah firman (ucapan) Allah dan dia merupakan zikir yang paling utama. Karenanya, walaupun Al-Qur`an ber­sama sunnah keduanya adalah wahyu, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan pahala khusus kepada setiap orang yang mem­baca Al-Qur`an, yang pahala ini tidak sama besarnya dengan yang didapatkan orang yang membaca hadits, walaupun itu hadits qudsi. Yaitu bahwa setiap huruf dari Al-Qur`an bernilai minimal 10 pahala, dan bisa lebih daripada itu sampai 700 kali lipat berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma ri­wayat Al-Bukhari dan Muslim tentang pelipatgandaan pahala. Selain keutamaan berupa pahala itu, Allah Ta’ala menambah­kan keutamaan besar lainnya, yaitu bahwa orang yang mahir (lancar dan benar) dalam membaca Al-Qur`an akan ditem­patkan bersama para malaikat yang mulia. Adapun bagi me­reka yang baru belajar Al-Qur`an sehingga masih kesulitan dalam membacanya, maka bagi mereka dua pahala: Pahala atas bacaannya dan pahala yang kedua atas kesusahan yang dia alami.

Berikut beberapa dalil lainnya tentang keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur`an:
Dari Umar radhiallahu anhu secara marfu’:
إِنَّ اللهَ يَـرْفَـعُ بِهَـذا الْقـرآنِ أَقْواماً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur`an ini seba­gian kaum dan merendahkan sebagian lainnya juga dengan­nya.” (HR. Muslim no. 817)
Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu secara marfu’:
خَـيْـرُكُـمْ مَـنْ تَـعَـلّـَمَ الْقُـرْآنَ وَعَـلَّـمَـهُ
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan yang mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5027)
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhu secara marfu’:
يُقالُ لِصاحِبِ القرآنِ: اِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَما كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْـيا. فَـإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْـدَ آخِرِ آيَةٍ كُنْتَ تَقْرَؤُهَا
“Akan dikatakan kepada para penghafal Al-Qur`an, “Bacalah dan naiklah ke atas. Bacalah dengan tartil sebagaimana dulu kamu di dunia membacanya dengan tartil. Karena jenjang kamu (di surga) berada di akhir ayat yang dulu kamu biasa baca.” (HR. Ahmad no. 6796 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8122)

Sejarah dan Hubungan Ilmu Tajwid dengan Ilmu Qi­roat

Al-Qur’an adalah sebuah kalam yang diturunkan dalam bahasa Arab. Dengan demikian wajib mengikuti kaidah yang ada pada bahasa Arab, sehingga makna yang dimaksudkan al-Qur’an tidaklah berubah. Kaidah bahasa dalam hal ini adalah nahwu untuk urusan susunan katanya, dan tajwid untuk uru­san cara membacanya. Sedangkan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah kaidah yang berkaitan dengan cara membacanya.

Dahulu, ketika al-Qur’an diturunkan, belum diperlukan ilmu semacam ini, karena orang Arab dengan tabiatnya telah  ter­biasa membaca  dengan  benar bahasa Arab yang mana meru­pakan bahasa komunikasi mereka  sehari-hari. Namun ketika Islam telah berkembang, diperlukanlah aturan ini, karena ba­nyaknya muslim yang selain Arab yang tidak lagi mempunyai tabiat bahasa seperti orang Arab. Orang-orang ini sering salah dalam mebaca al-Qur’an baik secara ’rob  ataupun  ahkam al-hurufnya. Sadar dengan keadaan ini, para ulama kemudian merumuskan kaidah yang mengatur tentang  i’rob  dan bagai­mana membaca al-Qur’an dengan sebaik-baik bacaan. Karena itu muncullah dua ilmu, Tajwid dan Nahwu.

Tajwid menurut bahasa adalah mashdar dari lafadz جَوَّدَ, يُجَوِّدُ  berarti  memperbaiki atau membuat baik (Abdu al-Qayyum bin ‘Abd al-Ghafur al-Sind : 2001 : 159). Isim dari kata tersebut adalah kata      جودة yaitu lawan kata  الرداءة  ( keburukan, kejelekan ). Dalam Nihayah al-Qaul al-Mufiddijelaskan bahwa makna tajwid itu adalah puncak maksimal dalam penyempurnaan, serta sampainya batas akhir dalam berbuat baik (Hasaniy Syaikh Utsman: 1994).

Sementara menurut istilah ulama,ada beberapa variasi definisi yang dikemukakan para ulama. Menurut Abdu al-Qayyum dalam kitabShafahatnya, ilmu tajwid adalah ilmu tentang tata cara membaca kata-kata dalam al-Qur’an al-Karim dari segi pengucapan huruf dari makhrajnya serta memberikan haknya huruf sesuai dengan huruf yang berhak. Sementara itu menurut Hasaniy Syaikh Utsman, ilmu tajwid adalah ilmu yang dengannya bisa diketahui cara-cara mengucapkan kata-kata dari al-Qur’an. Adapun tajwidnya huruf adalah mendatangi huruf dengan sebaik-baik lafadz sesuai dengan cara pengucapan huruf yang terbaik, yaiatu cara pengucapan Rasulullah . Sedangkan menurut ulama Qurra`, seperti yang terekam dalam nazham syairJazariyyahadalah membaca al-Qur’an dengan memenuhi hak-hak (makhraj-makhraj) huruf dengan semestinya, dengan memperhatikan semua sifat al-huruf. Selain itu juga membaca secara seimbang bacaan yang mempunyai hukum sama.

Sejarah Ilmu Tajwid

Sebenarnya, ilmu tajwid ini sandaran pokoknya secara praktis adalah Rasulullah  sendiri. Pada awalnya, ilmu tajwid ini adalah hasil pembacaan Nabi  atas al-Qur’an yang ditashihkan kepada malaikat Jibril . Adapun Jibril mendapatkannya dari Allah Rabb al-‘Izzati. Kemudian Nabi mengajarkannya kepada para sahabat seperti yang beliau dengar dari Jibril . Demikian pula para sahabat juga mengajarkan kepada para tabi’intabi’in kepada tabi’ al-tabi’in. Begitulah seterusnya pengajaran tajwid hingga masa sekarang dalam mata rantai yang dimulai dari Nabi , dari Jibril dari Rabb al-‘Alamin al-ladzi ‘allama al-insan ma lam ya’lam.

Konon para sahabat membaca al-Qur’an dengan benar (haqqa tilawatih) dan membacanya dengan benar-benar tartil dengan bergantung pada tabi’at, watak, ke-Arab-an, lurusnya aksentuasi, kefasihan lisan, serta kuatnya hafalan. Secara tabi’at, mereka tidak salah dalam men-tartil-kan al-Qur’an setelah menerimanya dari Nabi , seperti mereka tidak pernah salah dalam mengucapkan kalam Arab yang ditemui dari kaum mereka. Padahal pada waktu itu dan sesudah itu, ilmu tajwid belum dihimpun, begitu pula ilmu nahwu. Namun setelah tersebar kesalahan dan kesamaran pengucapan/lisan maka dibutuhkan ditetapkannya kaidah-kaidah ilmu tajwid seperti dibutuhkannya penetapan kaidah ilmu nahwu.

Tentang siapa yang memulainya dan kepada siapa secara ilmiah ilmu ini disandarkan, ada tiga pendapat. Ada yang mengatakan Abu al-Aswad al-Du`ali (w. 99 H), atau Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (w. 224 H.), atau al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H). Yang pasti paduan utama dalam hal ini adalah Rasulullah  sendiri.

Tidak jelas diketahui siapa yang men-tadwin ilmu tajwid ini, walaupun sejak dulu telah ada ulama yang concern dalam ilmu ini, dan telah diketahui kitab dalam ilmu ini yaitu al-‘Ain, yang ditulis oleh al-Khalil. Adapun kitab Sibawaih adalah kitab yang paling dahulu dalam pembahasan ilmu tajwid ini.

 

Hubungan Ilmu Tajwid Dengan Ilmu Qiroat

Hubungan tajwid dengan ilmu qiroat tentu sangat kuat. Karena qiroat adalah variasi dari cara membaca kalimat-kalimat al-Qur’an. Sedangkan al-Qur’an sendiri diturunkan dengan tartil. Ini menurut versi kitab Shafahat. Tapi agaknya qiroat bisa dianalogikan dengan mazhab fiqh. Sedangkan tajwid adalah variasi cara beribadah dalam sebuah mazhab fiqh. Artinya, tajwid adalah sebuah aturan membaca al-Qur’an dalam sebuah madzhab qiroat yang tentu saja disesuaikan dengan mazhab qiroat masing-masing yang dianut. Lalu apa itu tartil?

Tartil secara bahasa diambil dari mashdar kata  رَتَّلَ  mengikuti bab taf’il. Dikatakan   رَتَّلَ فُلاَنٌ كَلاَمَهُ   yang berarti mengiringkan antara satu kalam dengan kalamnya yang lain secara perlahan, jadi tidak dengan tergesa-gesa. Adapun secara istilah, tartil adalah membaca al-Qur’an al-Karim dengan perlahan-lahan dan tenang, disertai dengan memikirkan makna-maknanya, serta dalam keadaan menjaga hukum-hukum tajwid dan waqafnya. Atau, singkatnya, tartil adalah cara membaca kitabullah sesuai dengan turunnya.

Tartil itu adalah lafadz yang mencakup tiga tingkatan tilawah (pembacaan) al-Qur’an. Ketiga tingkatan itu adalah tahqiq, hadr, dan tadwir.Sebagian ulama membagi tingkatan ini dengan tartil, tadwir, dan hadr. Sebagian lagi membagi menjadi empat yaitu tahqiq, tartil, tadwir,dan hadr. Akan tetapi menurut imam Ibnu al-Jazariy bahwa tingkatan membaca al-Qur’an itu terbagi menjadi tiga yaitu, tahqiq, hadr, dantadwir, semuanya termasuk tartil. Akan tetapi dalam kitab  Fathu Al-Mannan  dibedakan antara tahqiq dengan  tartil. Dalam kitab tersebut dijelaskan, bahwa tahqiq itu lebih spesifik daripada tartil. Jadi tahqiq itu sudah pasti tartil, sedangkan tartil itu belum tentu tahqiq. Jadi dalam hal ini dipisahkan antara tartil dengan ketiga tingkatan baca yang lain.

Tiga tingkatan yang  telah disebutkan di atas           mempunyai level / pengertian yang berbeda-beda.  Pertama ,  tahqiq. Menurut Ibnu al-Jazariy tahqiq  secara istilah memberikan hak – hak setiap huruf, seperti memenuhi panjangnya  mad, memperjelas hamzah,  menyempurnakan  harakat, menjelaskan  antara izhhar  dan  tasydid, dan semisalnya. Tahqiq ini sangat cocok  untuk  melatih   lisan, memperjelas  lafaz – lafaz, dan mempetegak bacaan dengan tartil semaksimal mungkin. Jadi, untuk pemula  untuk memperbaiki bacaan sebaiknya mengikuti tipe bacatahqiq ini. Selanjutnya yang dimaksudkan dengan hadr adalah mempercepat bacaan serta memperingannya seukuran masih sahnya riwayat yang  sesuai  dengan  qiroat  yang  diikuti, dengan mengutamakan  washal  serta tetap menegakkan  i’rab, dan menjaga benarnya lafaz serta kuatnya huruf. Sedangkan yang dimaksud dengan tadwir adalah sedang antara ukuran  hadr  dan  tahqiq.

 

ADAB MEMBACA DAN MENDENGARKAN AL-QURAN  

Ketahuilah akhi muslim , di antara ibadah yang sangat agung adalah membaca Al-Qur’an, karena orang yang membaca al-Qur’an maka dia bersama Alloh Ta’ala,yang mana ia mengingat Alloh Ta’ala, maka Alloh Ta’ala pun mengingat nya ,oleh karena itu patut dan harus bagi seseorang untuk memperhatikan tentang adab ketika ia bersama Robb nya.yaitu ketika ia membaca Al-Qur’anulkarim.  

Maka di sini akhi fillah saya akan sebut kan diantara adab-adab nya,di mulai dari adab membaca,mendengar dan adab kepada Mushaf Al-qur’an,dengan mengutip perkataan Syekh Badr Hanafi Mahmud,dalam Risalah beliau yang berjudul “ Al-basith fi ilmi tajwid “.

 

 

PERTAMA : Adab zhohiriyyah ( Badan )

  1. 1.      Di anjurkan bagi orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci,tidak dalam keadaan berhadats ,baik kecil atau pun besar.
  2. 2.    Diharus kan bagi orang yang membaca Al-Qur’an mengambil tempat yang suci dan bersih, serta menjauhkan kan diri dari perkara yang kotor dan najis, karna Al-Qur’an adalah Kitab Suci maka tidak pantas untuk menghinakan nya.
  3. 3.      Di anjurkan untuk menghadap kearah Qiblat,sesuai kemampuan nya.walaupun penganjuran nya tidak begitu di tekankan.
  4. 4.      Di Sunnah kan bagi pembaca Al-Qur’an untuk bersiwak ketika ingin membacanya, atau membersihkan mulut dengan selain nya kalau tidak ada siwak, karna begitulah amalan Rasululloh, sebagaimana Riwayat Aisyah Rodhiyallohu ‘anha.
  5. 5.      Di wajibkan mengucapkan Isti’adzah ketika memulai membaca Al-Qur’an, dengan lafadz” A’uudzubillahi minasysyaithoonirrojiim “Alloh Ta’ala berfirman :

 الرَّجِيم فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَان                                                                                                                                                  

Artinya : Maka apabila engkau hendak membaca Al- Qur’an ,mohonlah perlindungan kepada Alloh dari syetan yang terkutuk. (An-Nahl : 98)

Lafadz Isti’adzah bermacam- macam ,tetapi yang sering di ambil dan masyhur adalah :

أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيطاَن الرَّجِيمِ

  1. 6.       Membaca Basmalah ketika membaca Al-Quran pada awal Surah,    kecuali pada suroh Attaubah,akan datang penjelasan nya lebih rinci InsyaAlloh.
  2. 7.      Membaca Al-qur’an dengan tartil (salah satu tingkatan bacaan yang paling utama) dan tidak membaca Al-Qur’an seperti membaca Koran dan majalah serta buku- buku yang lain.sebagai mana firman Alloh Ta’ala :

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً

Artinya : Dan Al-Quran bacalah dengan tartil      ( perlahan-lahan) . (Al- muzammil : 4 )

  1. 8.      Di anjur kan membaca Al-Quran dengan urutan Mushhaf yang di awali dengan surah Al- fatihah, Al- baqoroh,dan seterusnya hingga surah An-Naas.
  2. 9.      Di tekan kan bagi pembaca Al-Quran tidak memutuskan bacaan nya untuk bercakap- cakap atau ngobrol ,kecuali apabila dalam rangka menjawab salam, maka ia putuskan bacaan nya dan menjawab salam kemudian meneruskan bacaan nya,hal ini karena menjawab salam merupakan kewajiban dari Alloh Ta’ala.
  3. 10.      Di sunnah kan bagi Qoori’ untuk sujud ketika membaca ayat- ayat sajadah,.
  4. 11.     Disunnahkan bagi Qoori’ untuk bertakbir diantara surah-surah dari surah Adh-dhuha sampai An-Naas. sebagaimana yang telah di jelaskan para Ulama Qiro’ah tentang penganjuran nya.
  5. 12.      Di anjur kan membaguskan suara dan memperindah bacaan Al-quran,dengan tetap memperhatikan kaidah dan hukum tajwid,serta tidak berlebih-lebihan di dalam nya dan masih dalam aturan syar’i yang telah di jelaskan para ulama’ qiroo’ah.
  6. 13.        Di anjurkan untuk menangis ketika membaca Al-qur’an ,sebagaimana amalan Rasululloh sholallahu alaihi wasallam , para Sahabat , Tabi’in , dan para Ulama setelahnya yang banyak di kisahkan tentang mereka .
  7. 14.      Menjaga bacaan agar tetap tawashshut (pertengahan) dalam suara, artinya tidak terlalu keras sehingga mengganggu manusia dan juga tidak terlalu pelan sehingga tidak dapat di simak dengan baik,apalagi ketika ia menjadi imam sholat,atau sedang dalam rangka belajar.Alloh Ta’ala berfirman :

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِك سَبِيلاً

Artinya ;Dan  jangan lah engkau mengeras kan suara mu dalam sholat   dan jangan pula merendahkan nya dan usahakan lah jalan tengah di antara kedua nya.   (Al-Isra’ ; 110).

  KE DUA : Adab Qolbiyyah ( Hati )

  1. 1.   Wajib bagi pembaca Al- Qur’an untuk mentadabburi dan memahami terhadap Al-Qur’an yang ia baca,sebagai mana firman Alloh Ta’ala :

أَفَلايَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا                              

 Artinya; Apakah mereka tidak memperhatikan  Al-qur’an ,atau hati mereka telah terkunci  ( Muhammad : 24)

  1. 2.    Hendak lah pembaca Al-Quran menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menghalangi nya dari memahami dan mentadabburi Al-Quran sehingga tidaklah ia membaca al-qur’an kecuali ia teringat dengan urusan dunia.
  2. 3.      Agar bacaan Al-Qur’an seseorang sampai kepada  derajat tadabbur dan dapat dengan khusyu’ di dalam nya  maka hendak lah ia melakukan beberapa tahap dan marhalah,sbb :

a. Hendaklah ketika ia membaca Al-Qur’an,seolah-olah ia  membaca di hadapan Nabi Sholallohu alaihi wasallam,atau membacakan untuk beliau.

b. Seolah – olah bacaan Al-quran yang ia baca di dengar Nabi ketika Beliau hidup.

c. Dia meyaqini bahwa bacaan Al- qur’an yang ia baca di dengar oleh Alloh Ta’ala ,dan ini adalah martabat yang tertinggi untuk sampai kepada Alloh Ta’ala,sebagai mana di riwayat kan kepada Rasululoh ; Barang siapa yang mengingin kan berbicara kepada Alloh Ta’ala maka dengan Al-Quran,.

d. Di sunnah kan ketika membaca Al-quran ,di saat ia membaca ayat tentang rahmat hendaklah ia memohon rahmat Alloh Ta’ala,apabila ia membaca ayat tentang adzab,hendaklah meminta perlindungan dari adzab Alloh Ta’ala,begitu juga ketika membaca ayat tentang kebesaran dan keagungan Alloh Ta’ala yang berkaitan dengan ciptaan Alloh ta’ala yang dahsyat,maka kita merenungkan betapa besar kekuasaan dan keagungan Nya, Alloh ta’ala berfirman :

     رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya : Ya..Tuhan kami ,tidaklah Engkau menciptakan semua ini   sia – sia ,Maha Suci Engkau ,lindungi lah kami dari adzab qubur.( Ali-Imron :191)

KETIGA : Adab Istimaa’( Mendengarkan Al-Qur’an ).

           Ketahui lah akhi muslim, bahwasanya mendengarkan Al-Qur’an adalah merupakan dari pada bagian ibadah yang agung,dan bahwasanya orang yang membaca dan mendengarkan Al-Qur’an keduanya mendapatkan pahala dan keutamaan dari Alloh Ta’ala,sebagai mana di riwayatkan dari Rasululloh, bahwasanya orang yang membaca Al-Qur’an dan yang mendengarkan nya seperti pemerah susu dan peminum susu,Alloh Ta’ala berfirman  :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ         Artinya : Apa bila di bacakan kepada kalian Al-Qur’an maka dengarkan lah dan diam lah , semoga kalian mendapat rahmat (Al-A’raf: 204)

Di sini kita akan menyebutkan diantara adab – adab mendengar Al-Qur’an sbb :

  1. Hendaklah mendengar kan al-Qur’an dengan tenang dan perhatian ,tidak gundah gulana.
  1. Tidak menyibukan diri,baik zhohir atau bathin selain hanya kepada Alloh Ta’ala,sehingga tidak mendengarkan Al-Qur’an dalam keadaan melakukan pekerjaan duniawi.
  1. Apabila mendengar ayat sajadah,di sunnahkan untuk sujud dan membaca dzikir yang di syariatkan.
  1. Apabila mendapatkan kesalahan bacaan dari pembaca Al-Qur’an maka hendaklah ia memperbaikinya.

 

KEEMPAT : Adab  kepada mushhaf Al-Qur’an.

       Kepada Mushhaf Al-Qur’an yang suci dan Agung kita juga punya adab yang harus senantiasa kita perhatikan ,karna di dalam nya terkumpul kalamulloh yang tinggi dan Agung,dan barang siapa yang mengagungkan kalamulloh ,berarti ia mengagungkan Alloh Ta’ala,dan barang siapa yang mengagungkan Alloh Ta’ala maka Alloh Ta’ala akan meninggikannya.

Adapun di antara adab – adab kepada Mushhaf Al-Qur’an adalah :

  1. Hendaklah seseorang meletakkan Mushhaf Al-Qur’an di atas yang lain dan menyimpan nya di tempat yang tinggi serta tidak meletakkan sesuatu di atas nya.
  2. Tidak meletakkan atau menyimpan Mushhaf Al-Qur’an di lantai atau di tanah.
  3. Membawa Mushhaf dengan baik,dan tidak menghinakan nya .
  4. Di anjurkan untuk memberinya wangi – wangian .
  5. Tidak menjadikan Mushhaf sebagai bantal,atau menjadikan nya sebagai alas atau penyangga sesuatu.
  6. Apabila terdapat Mushhaf yang usang dan tidak dapat di gunakan lagi karena di makan usia,maka hendaklah di jaga jangan sampai tercecer dan terhinakan,atau lebih baik di bakar agar tidak terhinakan ,sebagai mana fatwa lajnah da’imah tentang hal ini.

Dan diantara adab kepada mushhaf adalah, menghindarkan dari ucapan yang tidak tepat,seperti mengatakan “ Al-Quran Indonesia”  Al-Quran Madinah” atau yang lain ,atau mengatakan ,”saya membeli Al-qur’an”. Maka ucapan- ucapan yang seperti ini tidak tepat,karena di lihat dari berbagai sisi , yang pertama ;

-          Bahwa antara kata Al-qur’an dan Mushhaf berbeda, Al-qur’an adalah sebagaimana yang sudah kita ketahui,yaitu Wahyu Alloh yang terbesar,diturunkan  kepada Nabi yang Mulia  melalui Malaikat Jibril, yang berisi kabar gembira dan ancaman, perintah dan larangan, kisah- kisah hikmah dll.

Sedangkan Mushhaf adalah lembaran – lembaran yang berisi kalam ilahi,atau bisa disebut dengan copian atau cetakannya ,jadi yang tepat kita katakan “ Mushhaf Indonesia”artinya Copian atau Cetakan Al-Qur’an dari Indonesia,.

-          Di antara adab yang lain adalah,kita tidak boleh mengatakan “ surah kecil “ tapi yang kita katakan adalah “surah pendek” karena kalamulloh semuanya agung dan besar tidak ada yang kecil.

         Termasuk perkara yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai berlebihan dalam Tajwid ( Mubalaghoh wa Ifrooth)
Berlebihan dalam pengucapan dan pelafalan Al-Quran juga sama bahayanya dengan meninggalkan tajwid. Berikut contoh-contoh kesalahan yang berhubungan dengan berlebihan dalam pengucapan al-Quran :
• At-Tar’iid : pembacaan al-quran dengan bergetar secara berlebihan, bagaikan orang yang menggigil kedinginan atau menahan sakit.
• At-Tarqish : berhenti dan diam pada tempat berhenti, untuk kemudian melanjutkan harokah dengan cepat seperti lari dari musuh atau terkejut.
• At-Tathriib : pembacaan seperti musik, khususnya memanjangkan secara berlebihan pada huruf mad
• At-Tahziin : membaca al-Quran dengan nada sedih yang berlebihan dan hampir-hampir menangis berlebihan
• At-Tardiid : pengulangan ayat terakhir yang dibaca seorang qori’ oleh sekumpulan orang yang mendengarkannya.

Hukum Mengajarkan Al-Qur’an dan Menerima Honor dari Mengajarkannya

Rasulullah  bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.
Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A’lam.
Ada sebuah riwayat yang dapat kita jadikan dasar pemikiran dalam hal menerima honor (upah) dari mengajarkan al-Qur’an : Hadits riwayat Imam Bukhari, Jilid 3, Nomor 476: Diriwayatkan dari Abu Sa’id :
Beberapa Sahabat Nabi dalam suatu perjalanan, sampailah di sebuah kampung (di malam hari). Mereka meminta penduduk kampung tersebut untuk memperlakukan mereka sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut menolak untuk menjamu mereka. Sang kepala suku kampung Arab tersebut kemudian digigit ular (atau tersengat kalajengking) dan para penduduk tersebut mencoba sekuat tenaga untuk menyembuhkannya, namun gagal.
Beberapa di antara mereka berkata, “Tak satu pun yang dapat membuatnya sembuh, coba pergilah kalian ke orang-orang itu (para sahabat Nabi) yang bermalam di sana, mungkin ada di antara mereka yang memiliki obat”. Mereka pun pergi ke tempat para Sahabat dan berkata “Pemimpin kami telah digigit ular (atau tersengat kalajengking) dan kami telah mencoba berbagai cara namun ia tak sembuh-sembuh juga. Apakah kalian memiliki sesuatu (untuk menyembuhkannya)?” Salah seorang di antara Sahabat Rasululloh tersebut menjawab “Ya, Demi Allah! Aku dapat membacakan Ruqyah (mantera), tapi karena kalian telah menolak untuk menerima kami sebagai tamu, aku tak akan membacakan Ruqya bagi kalian, kecuali bila kalian memberikan upah atasnya.”
Mereka pun setuju untuk membayar para Sahabat tersebut dengan sejumlah domba. Salah seorang dari para Sahabat Nabi itu kemudian pergi dan membaca Al-Fatihah: ‘Segala puji adalah bagi Tuhan sekalian alam’ dan meludahkannya ke sang kepala suku, yang seketika itu menjadi sehat kembali seakan-akan ia baru terlepas dari kungkungan rantai, dan bangkit serta mulai berjalan, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit.
Mereka pun membayar para Sahabat sejumlah kambing seperti yang telah disetujui. Beberapa di antara para Sahabat, kemudian menyarankan untuk membagi pendapatan mereka tersebut di antara mereka sendiri, tapi Sahabat yang melakukan pembacaan Ruqyah tadi mengatakan, “Jangan membagi-bagi upah ini hingga kita pergi menghadap pada Nabi dan menceritakan keseluruhan peristiwa tadi pada beliau, dan menunggu perintah beliau.”
Maka, mereka pun pergi ke Rasulullah  dan menceritakan peristiwa itu. Rasulullah  bertanya, “Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu dapat dipakai sebagai Ruqya?” Kemudian beliau  menambahkan, “Kalian telah melakukan hal yang benar. Bagilah (apa yang telah kalian peroleh) dan berilah pula bagiku bagianku.” Nabi pun tersenyum.

PENYIMPANGAN DALAM MEMBACA                   AL-QURAN .

        Berikut ini kami ketengahkan beberapa penyimpangan yang sering dilakukan sebagian kaum muslimin kaitannya dengan Al Qur’an. Semoga bermanfaat.

-          1. Menggunakan lagu-lagu yang menyerupai ahlul kitab seperti lagu orang nashara atau lagu orang fasik. Seperti dangdut, keroncong, rock, dan sebagainya. Terlebih lagi bacaan Al Qur’an yang diiringi dengan musik-musik.

-          2. Selalu berusaha mengakhiri bacaan Al Qur’an dengan “Shadaqallahul ‘adzim”.

-          3. Menyebut kata-kata Allah Allah, ya Syaikh, dan sebagainya di kala mendengar seorang qari’ melantunkan bacaan Al Qur’an terutama dalam musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ).

-          4. Mencium mushaf ketika hendak membaca atau mengakhiri bacaan Al Qur’an.

-          5. Menutup telinga ketika membaca Al Qur’an.

-          6. Membaca Al Qur’an ketika ada kematian.

-          7. Membaca Al Qur’an di atas kubur para wali. Dan yang lebih jelek lagi di atas kubur orang kafir.

-          8. Membunyikan tape atau radio sebelum shalat Jum’at.

-          9. Membaca Al Qur’an dengan duet (2 orang) atau triet (3 orang) dengan cara bergantian satu dengan lainnya.

-          10. Selalu membuka pertemuan-pertemuan dengan bacaan Al Qur’an.

-          11. Membaca Al Qur’an di waktu maulud Nabi, Isra’ Mi’raj, hari ulang tahun dan lainnya.

-          12. Membaca dengan sangat cepat sehingga hilang sebagian huruf atau harakat atau tidak membedakan antara bacaan panjang dan pendek.

-          13. Membaca dengan cara bergantian seperti orang yang membaca “alhamdu”, orang kedua membaca “lillahi”, orang ketiga membaca “rabbil ‘alamin” dan seterusnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syiah dan Sufiyah.

-          14. Membaca Al Qur’an dengan pengeras suara sebelum shalat shubuh dengan alasan untuk membangunkan orang tidur. Hal ini jelas mengganggu orang yang sedang shalat malam atau orang sakit.

-          15. Membaca Al Qur’an sambil menghisap rokok, karena malaikat akan terganggu bau rokok tersebut sebagaimana terganggunya sebagian manusia.

-          16. Membaca Al Qur’an dengan qira’ah syaadzah (ganjil/aneh) yang menyelisihi qira’ah mutawatirah (yang sudah dikenal).

-          17. Membaca Al Qur’an di kala sedang menjadi imam dengan dua qira’ah atau lebih yang membuat makmum merasa kebingungan.

-          18. Mengkhususkan bacaan surat-surat tertentu, seperti hari Jum’at membaca Yasin, malam maulud Nabi dengan surat Al Muzammil, atau Alam Nasyrah dalam shalat isya’ dan shubuh.

-          19. Membaca surat As Sajdah pada Jum’at pagi pada shalat shubuh dengan membagi menjadi dua rakaat.

-          20. Membaca Al Qur’an ketika ada kelahiran bayi termasuk adzan dan iqamah.

-          21. Membaca doa sebelum dan sesudah selesai membaca Al Qur’an. Seperti “Allahummar hamni bil Qur’an wa ja’alhuli imaman wa nuran wa hudan wa rahmatan… dan seterusnya.”

-          22. Mengirim bacaan Al Fatihah pada orang yang sudah meninggal dunia.

-          23. Mengakhiri bacaan Al Qur’an dengan sujud.

-          24. Mengiringi bacaan Al Qur’an ketika mengantar jenazah.

-          25. Tepuk tangan ketika selesai seorang qari’/qari’ah membaca Al Qur’an. Terlebih lagi di kala MTQ.

-          26. Menggoyang-goyangkan kepala atau badan ketika sedang membaca Al Qur’an.

-          27. Meniru bacaan Al Qur’an dengan nada syair-syair.

-          28. Membaca Al Qur’an yang dilakukan di atas menara masjid.

-          29. Membaca tambahan doa ketika sedang disebut nama Nabi. Seperti: Shuhufi Ibrahima wa Musa. Dengan menambah ‘alaihima salam.

-          30. Selalu membaca surat Al Ikhlas pada rakaat kedua malam Jum’at pada waktu shalat maghrib.

-          31. Selalu berusaha membaca tiga ayat terakhir dari surat Al Jumu’ah pada shalat Jum’at.

-          32. Membaca Al Qur’an dengan bersama-sama dengan satu suara kecuali dalam proses belajar mengajar.

-          33. Membaca surat tertentu ketika masuk dalam tempat tertentu, seperti ketika mau masuk Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan lainnya.

-          34. Selalu membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at sebelum datangnya imam.

-          35. Mengakhiri bacaan Al Qur’an dengan surat Al Fatihah.

-          36. Membaca surat Yasin ketika memandikan mayit.

-          37. Membaca Al Qur’an dengan cara membalik dari belakang. Seperti firman Allah: Qulhuwallahu ahad. Menjadi had a hunloaw hu kul, seperti orang yang mencari kekebalan.

-          38. Membaca Al Qur’an seorang laki-laki dengan suara perempuan atau sebaliknya.

-          39. Membaca Al Qur’an di pintu masjid, atau di jalan-jalan dengan tujuan untuk meminta-minta pada orang yang lewat.

-          40. Selalu membaca surat Al Ikhlas di rakaat kedua pada shalat tarawih sebagaimana orang-orang sufiyah.

-          41. Mengalungkan mushaf kecil untuk kekebalan atau menolak madharat.

-          42. Memakan sebagian tulisan Al Qur’an.

-          43. Meletakkan mushaf di wc sebagaimana yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir.

-          44. Menulis ayat Al Qur’an di dinding masjid, kendaraan bermotor, di sepanjang jalan dan sebagainya.

MAKNA TAJWID

Makna Tajwid sudah kita singgung pada pembahasan sejarah ilmu Tajwid di atas , dan dapat kita simpulkan sebagai berikut :

       A. Makna Tajwid secara bahasa : Tajwid berasal dari kata  “jawwada”,yujawwidu ” isim mashdar nya adalah ,” tajwiidan” artinya adalah Membaguskan atau memperbaiki ,kata Tajwid serupa dengan kata  “Tahsiin “yang asal kata nya adalah “ hassana’ , ‘yuhassinu” ,yang isim mashdar nya “ Tahsiinan”.kedua makna nya sama,maka bisa dikatakan bahwa makna Tajwid adalah Tahsin, dan begitu sebalik nya ,

atau bisa juga bermakna “ Al- Itqoonu “ yang artinya menyempurnakan.

( lihat kitab Al-basith fi ilmi tajwiid< syekh Badr hanafi Mahmud )

 

  1.     B.    Makna Tajwid secara Istilah :  Yaitu mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluar nya huruf, dengan memberikan Hak huruf dan mustahaqqul huruf .( lihat kitab Ahkaamuttilaawah,syekh A’dl Nashr ,hal 2)

 Yang di maksud dengan Hak Huruf adalah : Sifat dzatiyyah yang senantiasa melekat pada huruf tersebut seperti Al- jahru ( jelas) dan Asysyiddah ( kuat)

Sedangkan yang di maksud dengan  Mustahaqqulhuruf  adalah : Sifat yang terkadang menyertai suatu huruf,dan terkadang juga hilang sifatnya ,dalam kondisi tertentu,seperti Tafkhim ( Tebal ) dan Tarqiq ( Tipis ). ( lihat kitab Ahkaamuttilaawah,syekh A’dl Nashr ,hal 2)

HUKUM MEMPELAJARI ILMU TAJWID.

Hukum mempelajari Ilmu tajwid adalah fardhu kifayah atas kaum muslimin secara umum,dan merupakan fardhu ain di lihat dari sisi pengamalan nya ,karena membaca Al-Qur’an  dengan baik dan benar sesuai dengan hukum tajwid dan kaidah nya adalah merupakan suatu kewajiban,dan tidak lah seseorang dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar kecuali mempelajari ilmu Tajwid,dalil yang menunjukan wajib nya membaca Al-qur’an dengan baik dan benar ,adalah firman Alloh Ta’ala :

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا                                                       

Artinya : Dan Al-Qur’an bacalah dengan tartil (perlahan –lahan )’(Al-Muzammil : 4)

Rasululloh bersabda :

                          بِاالقُرْاَنِ “  “لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَّغِنَّ

     

Artinya : bukan ter masuk golongan kami ,orang yang tidak membaguskan bacaan Al-Qur’an.                      ( HR.Bukhori .7527 )

Yang di maksud dengan ,Membaguskan bacaan Al-Qur’an “adalah ia memperbaiki bacaan nya.

Oleh karena itu berkata Imam Al- jazury di dalam syair nya

والأخذ بالتجويد حتم لازم

 

 

 

 

من لم يجود القرآن آثم

لأنه به الإله أنزلا

 

وهكذا منه إلينا وصلا

Makna nya  : “ Membaca Al-Qur’an dengan tajwid adalah   keharusan,barang siapa yang tidak mentajwidkan nya maka itu suatu dosa,karna begitulah Alloh menurunkan nya,dan begitu pula Al-Qur’an sampai kepada kita.

Sedangkan tema pembahasan ilmu tajwid adalah ; pembahasan  Al-Qur’an dengan membaca nya sesuai dengan Ilmu Tajwid yang merupakan semulia- mulia nya Ilmu , karena ia berhubungan dengan kalamulloh,

Adapun tujuan dari pembahasan Ilmu Tajwid adalah untuk menghindarkan lisan dari kesalahan dan lahn dalam membaca Al-Qur’an,sehingga si pembaca mendapat kan kebaikan dan kebahagian di dunia dan di akhirat,maka bagi yang membaca al-Qur’an satu huruf yang ia ucapkan maka satu kebaikan bagi nya , dan setiap kebaikan dilipat gandakan sepuluh.

Karna itu para ulama menyebutkan Hukum belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Kalau ada dalam suatu tempat ada seseorang yang menguasai ilmu ini maka bagi yang lainnya tidak menanggung dosa, kalau sampai tidak ada maka seluruh kaum muslimin menanggung dosa.

Sedangkan membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib ‘ain artinya bagi seorang yang mukalaf baik laki-laki atau perempuan harus membaca Al Qur’an dengan tajwid, kalau tidak maka dia berdosa, hal ini berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan ucapan para ulama.

1. Dalil-dalil dari Al Qur’an

1. Firman Allah Azza wa Jalla:

“…dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil.” (Al Muzzammil: 4)

Maksud tartil itu adalah membaguskan huruf dan mengetahui tempat berhenti, keduanya ini tidak akan bisa dicapai kecuali harus belajar dari ulama atau orang yang ahli dalam bidang ini, dan perintah ini menunjukkan suatu kewajiban sampai datang dalil yang bisa merubah arti tersebut.

2. Firman Allah Azza wa Jalla:

“Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 121)

Dan mereka tidak akan membaca dengan sebenarnya kecuali harus dengan tajwid, kalau meninggalkan tajwid tersebut maka bacaan itu menjadi bacaan yang sangat jelek bahkan kadang-kadang bisa berubah arti. Ayat ini menunjukkan sanjungan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang membaca Al Qur’an dengan bacaan sebenarnya.

3. Firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan kami membacanya dengan tartil (teratur dengan benar).” (Al Furqan: 32)

Ini adalah sifat Kalamullah, maka wajib bagi kita untuk membacanya dengan apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla.

2. Dalil-dalil dari As Sunnah

1. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya bagaimana bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab bahwa bacaan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu dengan panjang-panjang kemudian dia membaca “Bismillahirrahman arrahiim” memanjangkan (bismillah) serta memanjangkan (ar rahmaan) dan memanjangkan ar rahiim.” (HR. Bukhari)

2. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat agar mengambil bacaan dari sahabat yang mampu dalam bidang ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mintalah kalian bacaan Al Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah para sahabat yang mulia, padahal mereka itu orang-orang yang paling fasih dalam pengucapan Al Qur’an masih disuruh belajar, lalu bagaimana dengan kita orang asing yang lisan kita jauh dari lisan Al Qur’an?

3. Dan dalil yang paling kuat sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur ketika Ibnu Mas’ud menuntun seseorang membaca Al Qur’an. Maka orang itu mengucapkan:

“Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin.”

Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu katakan, “Bukan begini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat ini kepadaku.” Maka orang itu jawab, “Lalu bagaimana Rasulullah membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?” Maka beliau ucapkan:

“Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin.”

Dengan memanjangkannya. (HR. Sa’id bin Mansur)

Ibnu Mas’ud langsung menegur orang ini padahal ini tidak merubah arti, akan tetapi bacaan Al Qur’an itu adalah suatu hal yang harus diambil sesuai dengan apa yang Rasulullah ucapkan.

3. Ijma’

Seluruh qura’ telah sepakat tentang wajibnya membaca Al Qur’an dengan tajwid.

Fatwa Para Ulama Dalam Permasalahan Ini

1. Fatwa Ibnu Al Jazary

Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu beribadah dalam upaya memahami Al Qur’an dan menegakkan ketentuan-ketentuannya, beribadah dalam pembenaran lafadz-lafadznya, menegakkan huruf yang sesuai dengan sifat dari ulama qura’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Annasyr 1/210)

2. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Adapun orang yang keliru yang kelirunya itu tersembunyi (kecil) dan mungkin mencakup qira’at yang lainnya, dan ada segi bacaan di dalamnya, maka dia tidak batal shalatnya dan tidak boleh shalat di belakangnya seperti orang yang membaca “as sirath” dengan ‘sin’, pergantian dari “ash shirath, karena itu qira’at yang mutawatir. (Majmu’ Fatawa 22/442 dan 23/350)

Dari fatwa ini bisa kita ambil kesimpulan:

1. Tidak selayaknya seorang yang masih salah dalam bacaan (kesalahan secara tersembunyi) untuk menjadi imam shalat, lalu bagaimana dengan yang mempunyai kesalahan yang fatal seperti yang tidak bisa membedakan antara ‘sin’ dengan ‘tsa’ atau ‘dal’ dengan ‘dzal’, yang jelas-jelas merubah arti.

2. Secara tidak langsung Syaikhul Islam telah mewajibkan untuk membaca Al Qur’an dengan tajwid karena kesalahan kecil itu tidak sampai merubah arti, beliau melarang untuk shalat di belakangnya, lalu bagaimana dengan kesalahan yang besar.

3. Fatwa Syaikh Nashiruddin Al Albany

Ketika ditanya tentang perkataan Ibnul Jazary tersebut di atas, maka beliau mengatakan kalau yang dimaksud itu sifat bacaannya di mana Al Qur’an itu turun dengan memakai tajwid dan dengan tartil maka itu adalah benar, tapi kalau yang dimaksud cuma lafadz hurufnya maka itu tidak benar. (Al Qaulul Mufid fii Wujub At Tajwid, hal. 26)

4. Fatwa Asy Syaikh Makki Nashr

Telah sepakat seluruh umat yang terbebas dari kesalahan tentang wajibnya tajwid mulai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai zaman sekarang ini dan tidak ada seorang pun yang menyelisihi pendapat ini. (Nihayah Qaul Mufid hal. 10)

 

 PEMBAGIAN LAHN ( KESALAHAN )

Yang di maksud dengan Lahn adalah,sebagai mana yang di katakan Ulama Qiro’ah , di antara nya Iman Jazuriy , Syekh Mahmud Al- Hushori, Syekh A’dl Nasr , Syekh Badr Hanafi Mahmud DLL,secara bahasa adalah ; Menyimpang dari kebenaran ,adapun secara istilah yaitu : kesalahan dalam membaca Al-Qur’an, baik yang memalingkan makna , atau menyelisihi kaidah tajwid yang benar.

 

Lahn ada 2 ( dua ) macam   :

  1. 1.      Lahnuljaly .

       Yaitu kesalahan yang fatal atau besar yang sampai merubah makna Al-Qur’an , hal ini di sebabkan oleh keluar nya huruf tidak pada tempat keluar nya huruf,kesalahan jenis ini meliputi  merubah huruf,merubah harokat , memanjangkan huruf yang pendek ataupun sebaliknya memendekkan huruf yang di baca panjang.berkata para Ulama Qiro’ah kesalahan jenis ini hukum nya harom.

 

2.  Launul khofy.

Yaitu kesalahan yang ringan , yang tidak sampai kepada perubahan makna Al-Qur’an ,seperti meninggalkan ghunnah,terlalu panjang atau terlalu pendek dalam membaca mad dan yang lain nya,di kata kan Ulama’ Qiro’ah bahwa kesalahan jenis ini hukumnya makruh bahkan ada Ulama yang Mengatakan Haram, adapun rincian nya sebagai berikut :   

A. Kesalahan Yang Jelas/ Lahnul Jalii ( اَللَّحْنُ الْجَلِىُّ ), yaitu :

“Salah dalam pengucapan lafal sehingga rusak menurut teori bacaan baik merusak makna atau tidak seperti berubah huruf atau harokat”

Lahnul Jalii yang dapat mengubah makna ialah:
1.    Bergantinya suatu huruf dengan huruf lain
 ( اِبْدَالُ حَرْفٍ بِحَرْفٍ ) ibdalu harfin biharfin
Contoh:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ….

“….dan mudah-mudahan kamu bersyukur” (Qs. Al-Jatsiyah: 12)
ApabiIa lafadz “tasykurun”   pake  syin (ش ) berubah menjadi “taskurun” menggunakan  sin (س ) maka  artinya berubah menjadi  “ … dan mudah-mudahan kamu mabuk”.

2.     Bergantinya  suatu harakat dengan harakat lain 
اِبْدالُ حَرَكَةٍ بِحَرَكَةٍ ) ibdalu harokatin biharokatin
Contoh :

….صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.. ” (Qs. Al-Fatihah:7)
Apabila lafazh “an’amta”  dimana huruf ta’nya difathah (تَ)  malah dibaca “an’amtu”ta’nya jadi didhomah (تُ) maka dhamirnya berubah jadi ana اَنَا (aku), sehingga artinya akan menjadi: “ (yaitu) orang-orang yang telah aku anugerahkan nikmat kepada mereka.”

3.    Bertambah atau berkurangnya huruf
( زِيَادَةُ اَو نُقْصَانُ الْحُرُوْفziyadatu aw nuqshonul huruf

Contoh:   اَنْعَمْتَ  (an’amta) dibaca  اَنَمْتَ (anamta)  hilang huruf  ع ‘ain   atau bertambahnya huruf , seperti
اَنْعَمْتَ (an’amta) dibaca   اَنْعَمْتَهْ  (an’amtah) ditambah dengan huruf    hha

Adapun  Lahnul  Jalii  yang  tidak  mengubah  makna contohnya ialah lafadz :
( alhamdulillahi ) dibaca  ( alhamdulillaha )  hha kasroh m dibaca dengan fathah,atau kalimat yang lain seperti lafadz (lam yalid wa lam yuulad) malah dibaca  ( lam yalid wa lam yuuladu dal sukun malah dibaca dhomah

Walaupun tidak mengubah makna, keduanya tergolong Lahnul  Jalii yang haram hukumnya dilakukan. (Penggunaan istilah hukum dalam ‘ilmu tajwid insya-Allah akan menjadi pembahasan berikutnya)

B.    Kesalahan Yang Tersembunyi/ Lahnul  Khofii      ( اَللَّحْنُ الْخَفِىُّ ) ,yaitu :

“Salah dalam pengucapan (lafadz) sehingga merusak menurut teori bacaan tapi tidak merusak makna ayat seperti meninggalkan ghunnah, memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek”

Maksud pengertian tersebut adalah kesalahan yang terjadi pada ketentuan tajwid yang tidak sampai merusak huruf atau makna ayat seperti pelanggaran dari hukum huruf, kurang dalam memberikan ghunnah atau kurang dalam memberikan ukuran mad dan sebagainya.

Kesalahan yang  seperti  ini  tidak  dapat diketahui dengan mudah oleh umum kecuali bagi yang  telah  menguasai ilmu tajwid dan tajam pendengarannya. Oleh karena itu ia  disebut  kesalahan yang tersenbunyi atau ringan, selain itu memang tidak sampai merusak  makna ayat. Kesalahan yang ringan ini hukumnya tidaklah  haram tapi merupakan satu  cacad atau aib dalam  bacaan dan bagi pembaca hal tersebut harus dihindari.

Diantara kesalahan yang tergolong sebagai Lahnul Khofii adalah:

  1. Membaca  dhommah  dengan  suara  antara  dhommah  dan fathah,  seperti membaca dhommahnya lafazh  اَنْتُمْ (antum)  dan عَلَيْكُمْ(‘alaikum)  dengan  suara  antara  dhommah dan fathah (menjadi  antoum ; ‘alaikoum)
  2. Membaca kasroh dengan suara antara kasroh dan fathah, seperti membaca kasrahnya
  3. lafazh بِهٖ  (bih) dan عَلَيْهِمْ (‘alaihim) dengan suara antara kasrah dan fathah (menjadi beih ; ‘alaiheim)
  4. Menghilangkan dengung lafazhyang seharusnya dibaca dengung atau sebaiiknya, termasuk juga menambah atau mengurangi ukuran dengung suatu bacaan.
  5. Menghilangkan ghunnah lafazh yang seharusnya dibaca ghunnah,
    menambah atau mengurangi ukuran ghunnah suatu bacaan’
  6. Menggetarkan (takrir) huruf Ra’ (ر ) secara berlebihan atau sebaliknya.
  7. Menebalkan (taghlizh) suatu huruf lam (ل ) tidak pada tempatnya
  8. Menambah atau mengurangi ukuran Mad suatu bacaan.

Supaya tidak terjatuh kepada kesalahan dalam membaca Al-Quran maka di haruskan untuk talaqqi bersama dengan guru,dalam pengucapan huruf,Talaqqi adalah : metode mempelajari Al Qur’an secara langsung dengan guru. Seorang murid bertemu dan berhadapan langsung dengan gurunya, sehingga ia tidak hanya mendengar lafadz Al Qur’an yang diucapkan oleh sang guru tetapi juga melihat langsung bagaimana sang guru melafadzkan dari lisannya. Pertemuan dan penerimaan secara langsung inilah yang menjadi inti dari Talaqqi. Talaqqi ini merupakan metode yang paling utama dan dianjurkan dalammempelajari tajwid.

Bahasan lebih lengkap tentang “lahn” beserta contoh2nya dapat dilihat dalam kitab “Nihayatul Qouli Mufid, halaman 23-24

MAROTIB ATAU TINGKATAN BACAAN.

 

Pada pembahasan Sejarah Tajwid diatas sudah kita singgung yang berkaitan dengan tingkatan bacaan,karena itu dapat kita ringkas sebagai berikut :

Tingkatan bacaan Al-Qur’an ada 3 (tiga ) yaitu  :

1 .At- tahqiiq : yaitu bacaan yang lambat tidak tergesa – gesa dengan tetap memberi kan haq huruf dan mustahaq nya,dan ini adalahmaqom yang gunakan dalam rangka pengajaran.

2. At-tartil  : Yaitu bacaan yang lamban dengan di sertai tadabbur,serta memberikan haq dan mustahaqqul huruf,dan ini adalah marotib yang paling afdhol, tingkatan ini adalah madzhab nya Imam Wars,Imam Ashim ,dan Imam Hamzah .

3. Al- hadr : yaitu bacaan yang agak cepat,tapi tetap memperhatikan kaidah-kaidah dan hukum tajwid,dan ini madzhab nya Imam Ibnu Katsir,Al- Makki , Abi Umar , Al-Bashory, dan Al-Qoluun.

4. At-tadwiir : Yaitu bacaan antara Tartil dan hadr , bersama memperhatikan hukum-hukumnya,dan ini adalah madzhab nya Ibnu Amir dan Al-kasaa,i

 RUKUN- RUKUN QIRO’AH.

Ketahuilah,bahwa setiap sesuatu ada rukun nya.termasuk membaca Al-Qur’an , ada rukun – rukun yang perlu di perhatikan bagi orang yang membaca Al-Qur’an, ada tiga rukun yang harus di perhatikan yaitu :

  1. Shohih nya sanad atau mata rantai riwayat yang sampai kepada    Rasululloh,yang mana ia menukil dari guru nya yang dilihat dari periwayatan bersambung sampai kepada Rosululloh, atau ia menukil dari ulama Qiro’ah yang mu’tabar dalam periwayatan Qiro’ah
  2. Sesuai dengan Rosm Utsmany,artinya mushaf yang ia gunakan dalam membaca Al-Qur’an menggunakan rosm utsmany yang menjadi mushhaf standar qori’ah shohihah dalam penetapan atau di buang nya huruf atau kata dalam Al-Qur’an yang telah di sepakati ulama Qiro’ah,begitu juga dalam washol,atau berhenti,dan pemakaian kata dalam Al-Qur’an.
  3. Bacaan nya harus sesuai dengan kaidah nahwu ( gramer bahasa arab ) walapun lemah secara pentepan.

Maka apabila tidak terpenuhi rukun-rukun Qiro’ah ter sebut,maka syadz dan tidak shohih bacaan Qur’an nya.sebagai mana yang di katakan oleh Imam  Al-jazuri berikut.

فكل ما وافق وجه نحو

 

وكان للرسم احتمالاً يحوي

وصح إسنادًا هو القرآن

 

فهذه الثلاثة الأركان

“Maka setiap bacaan Qur’an yang sesuai dengan kaidah bahasa,dan menggunakan rosm utsmany,serta shohih sanad nya,inilah tiga rukun Qiro’ah.”

Berkata Al-imam Asy-syuyuty, berkenaan dengan syarat Qiroah yang di terima dan shohih ,

وأحسن من تكلم في هذا النوع إمام القراء في زمانه شيخ شيوخنا أبو الخير بن الجزري قال في أول كتابه النشر: كل قراءة وافقت العربية ولوبوجه ووافقت أحد المصاحف العثمانية ولواحـتمالاً وصح سندها فهي القراءة الصحيحة التي لا يجوز ردها ولا يحل إنكارها، بل هي من الأحرف السبعة التي نزل بها القرن، ووجب على الناس قبولها سواء كانت عن الأئمة السبعة أم عن العشرة أم عن غيرهم من الأئمة المقبولين،

Perkataan yang paling tepat mengenai hal ini adalah yang dikemukakan oleh imam para qari pada masanya guru dari guru-guru kami Abul Khair Ibnul Jazariy, beliau berkata di awal kitabnya An Nasyr : “ Setiap qiraat (bacaan) yang sesuai dengan (kaidah) bahasa arab meskipun hanya pada satu sisi, dan sesuai dengan salah satu mushaf Ustmaniy meskipun secara ihtimal (perkiraan) dan memiliki sanad yang sah maka itulah qiraat yang sahih yang tidak boleh ditolak dan diingkari. Bahkan itu termasuk al ahruf as sab’ah (huruf yang tujuh) yang dengannya al Quran diturunkan. Wajib bagi setiap orang untuk menerimanya baik itu datangnya dari imam yang tujuh atau imam yang sepuluh ataupun dari selain mereka dari kalangan imam-imam (qurra) yang diterima riwayatnya”.

ومتى اختل ركن من هذه الأركان الثلاثة أطـلق عليها ضعيفة أوشاذة أوباطلة، سواء كنت عن السبعة أم عمن هوأكبر منهم، هذا هو الصحيح عند أئمة التحقيق من السلف والخلف، صرح بذلك الداني ومكي والمهدوي وأبو شامة، وهومذهـب السلف الذي لا يعرف عن أحد منهم خلافة.

Apabila salah satu dari tiga rukun ini ada yang rusak maka disebut sebagai qiraat yang lemah, atau ganjil/ nyleneh atau batil, meskipun datangnya dari imam yang tujuh atau dari imam yang lebih senior . Inilah pendapat yang sahih menurut para imam ahli tahqiq dari kalangan salaf dan khalaf. Demikian diterangkan oleh ad Daniy, Makkiy, al Mahdawiy dan Abu Syamah, bahwasannya ini adalah madzhabnya salaf yang tidak diketahui adanya khilaf (perbedaan pendapat) di antara mereka.

ISTI’ADZAH DAN BASMALAH .

Yang masyhur menurut jumhurul ulama bahwa isti’adzah dilakukan sebelum membaca Alquran guna mengusir godaan setan. Menurut mereka, ayat yang berbunyi, (yang artinya) “Jika kamu hendak membaca Alquran, maka hendaklah kamu minta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk,” artinya jika kamu hendak membaca. Sebagaimana firman-Nya, (yang artinya) “Jika kamu hendak mendirikan salat, maka basuhlah wajah dari kedua tangnmu.” (Al-Maidah: 6), artinya jika kalian bermaksud mendirikan salat.

Penafsiran seperti itu didasarkan pada beberapa hadis dari Rasulullah . Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, katanya, jika Rasulullah hendak mendirikan salat malam, maka beliau membuka shalatnya dan bertakbir seraya mengucapkan, “Subhaanaka Allaahumma wabihamdika wa tabaa raka…………………” (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan puji bagi-Mu. Maha Agung nama-Mu dan Maha Tinggi kemuliaan-Mu. Tidak ada ilah yang haq melainkan Engkau). Kemudian beliau mengucapkan, “Laa ilaha illallaah” (tidak ada ilah yang haq kecuali Allah) sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaan, tipuan, dan hembusannya.”

Hadis ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun kitab as-Sunan dari riwayat Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali ar-Rifa’i, at-Tirmizi mengatakan bahwa hadis ini merupakan yang paling masyhur dalam masalah ini. Dan, kata al-hamz ditafsirkan sebagai cekikan (sampai mati), an-nafkh sebagai kesombongan, dan an-nafts sebagai syair.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad Rodhiyallohu anhu  katanya, “Ada  dua  orang yang saling mencela di hadapan Rasulullah saw, sedang  kami duduk di hadapan beliau. Salah  seorang dari keduanya  mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang merah padam. Maka Rasulullah  bersabda, ‘Sesungguhnya aku  akan mengajarkan suatu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang  semua yang dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan, A’uudzubillaahiminasysyaithoonirrajiimi‘.”

Kemudian para sahabat berkata kepada orang itu, “Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah ?” Orang itu menyahut, “Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tewas.”

Hadis di atas juga diriwayatkan bersama Imam Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i, melalui beberapa jalan dari al-A’masy.

Catatan:

  1. Jumhurul ulama berpendapat bahwa isti’adzah itu sunnah hukumnya dan bukan suatu kewajiban, sehingga berdoa bagi orang yang meninggalkannya. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwasannya ia tidak membaca ta’awudz dalam mengerjakan salat wajib.
  2. Dalam kitab al-Imla’, Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Dianjurkan membaca ta’awudz dengan jahr, tetapi jika dibaca dengan sirri juga tidak apa-apa.” Sedangkan dalam kitab al-Umm, beliau mengatakan, diberikan pilihan, boleh membaca ta’awudz, boleh juga tidak. Dan jika orang yang memohon perlindungan itu membaca a’uudzubillaahiminasysyaithoonirrajiimi, maka cukuplah baginya.
  3. Menurut Abu Hanifah dan Muhammad, ta’awudz itu dibaca di dalam salat untuk membaca Alquran. Sedangkan Abu Yususf berpendapat, bahwa ta’awudz itu justru dibaca untuk salat.

Berdasarkan hal ini, seorang makmum hendaklah membaca ta’awudz dalam shalat Ied setelah takbiratul Ihram dan sebelum membaca takbir-takbir Ied. Dan menurut jumhurul ulama, ta’awudz itu dibaca setelah takbir sebelum membaca Al-Fatihah atau surat Alquran.

Di antara manfaat ta’awudz adalah untuk menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-kata yang tidak mengandung faedah dan buruk. Ta’awudz ini digunakan untuk membaca firman-firman Allah. Artinya, memohon pertolongan kepada Allah sekaligus memberikan pengakuan atas kekuasann-Nya, kelemahan sebagai hamba, dan ketidakberdayaannya dalam melawan musuh yang sesungguhnya (setan), yang bersifat batiniyah, yang tidak ada orang yang mampu menolak dan mengusirnya kecuali Allah yang telah menciptakannya.

Allah  berfirman yang artinya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.”(Al-Isra’: 65).

Dan, para malaikan telah turun untuk memerangi musuh dari kalangan manusia. Barangsiapa yang dibunuh oleh musuh yang bersifat lahiriyah yang berasal dari kalangan manusia, maka ia meninggal sebagai syahid. Barangsiapa dibunuh oleh musuh yang bersifat batiniah, maka sebagai tharid. Dan barangsiapa yang dikalahkan oleh musuh manusia biasa, maka ia akan mendapatkan pahala, dan barangsiapa dikalahkan oleh musuh batini (setan), maka ia tertipu atau menanggung dosa. Karena, setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka ia memohon perlindungan kepada Rabb yang melihat setan, sedang setan itu tidak melihat-Nya.

Al-istiti’adzah berarti permohonan kepada Allah ta’ala dari setiap yang jahat. Al-’iyadzah  (permohonan pertolongan)  dalam usaha menolak kejahatan, sedangkanal-layadzu (permohonan pertolongan) dalam upaya memperoleh kebaikan.

A’udzubillahiminasysyaithonirrajim berarti, aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjaka apa yang Dia larang, karena setan itu tidak ada yang bisa mencegahnya untuk menggoda kecuali Allah.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyuruh manusia agar menarik dan membujuk hati setan jenis manusia dengan cara menyodorkan suatu yang baik kepadanya supaya dengan demikian dia berubah tabiatnya dari kebiasannya mengganggu orang lain. Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari setan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan, sebab tabiatnya jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakannya.

Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat Alquran. Pertama, firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang artinya, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.”

Makna di atas berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.

Kemudian, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200). Berlindung kepada allah maksudnya adalah membaca  “ a’udzubillahiminasysyaithonirrajim.

Dalam surat Al-Mukminun Allah berfirman yang artinya, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mukminun: 96 — 98).

Dan dalam surat Fushshilat ayat 34 — 36 Allah  berfirman yang artinya,“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam bahasa Arab, kata syaitan (setan) berasal dari kata syathan, berarti jauh. Jadi, syaitan itu tabiatnya jauh dari tabiat manusia, dan dengan kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu berasal dari kata syata (terbakar), karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna pertama yang lebih benar.

Menurut Sibawaih, bangsa Arab bisa mengatakan tasyaithana fulan, jika fulan itu berbuat seperti perbuatan setan. Jika kata syaitan itu berasal dari kata syatha, tentu mereka mengatakan tasyaith yang berarti jauh. Oleh karena itu, mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan. Berkenaan dengan hal itu Allah berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tia nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang ndah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112).

Dalam buku Musnad Imam Ahmad, disebutkan hadis dari Abu Dzar , Rasulullah bersabda yang artinya, “Wahai Abu Dzar, mohonlah engkau kepada Allah perlindungan dari setan-setan dari jenis manusia dan jin.” Lalu kutanyakan, “Apakah ada setan dari jenis manusia?” “Ya,” jawab beliau.

Dalam sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzar, katanya, Rasulullah  bersabda, “Yang memotong salat itu adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.”Kemudian kutanyakan, “Ya Rasulullah, mengapa anjing hitam dan bukan anjing merah atau kuning?” Beliau menjawab, “Anjing hitam itu adalah setan.”

Ar-rojim adalah berwazan fa’il (subjek), tetapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa setan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan, sebagaimana firman Allah  yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 5).

Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa membaca Isti’adzah hukum nya adalah wajib ketika memulai bacaan Al-Qur’an,dan ini merupakan pendapatnya kebanyakan Ulama,pendapat yang lain mengatakan hukum nya mustahab atau di sunnahkan,tapi yang jelas bahwasanya Isti’adzah adalah masru’ dan di syari’atkan ketika memulai bacaan Al-Qur’an , baik itu di awal surah atau pertengahan surah ,dalil yang menunjukkan tentang wajib nya adalah firman Alloh :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم                                                                        

Artinya : Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari syetan yang terkutuk.( An-nahl : 98 )

Berkata Al-Imam As-syathibi ; apabila engkau membaca Al-Qur’an maka ber ist’adzah lah . . . .,.

Adapun sifat isti’adzah adalah:                                             أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيطاَن الرَّجِيم    atau membaca

   أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

akan  tetapi yang rojih ( kuat )  adalah yang  pertama  karena ia sering di ambil dan di praktekkan serta di ucapkan,yang demikian itu adalah perkataan nya Imam As-syathiby,beliau juga mengatakan : sifat yang pertama ini yang paling mudah di lisan nya para Qori,

 

 

 Keadaan – keadaan membaca isti’adzah .

Membaca Isti’adzah mempunyai beberapa keadaan :

Keadaan yang pertama adalah di Jahr kan atau di jelas kan dalam membaca nya,yaitu ketika mempelajari Al-Qur’an atau dalam halaqoh pembelajaran Al-qur’an ,atau dalam pertemuan –pertemuan yang bersifat ke agamaan.

Keadaan yang kedua adalah men sir kan isti’adzah dengan bacaan yang tidak keras seukuran dapat ia mendengarnya sendiri atau orang yang di samping nya,ketika sholat atau membaca Al-Qur’an sendiri yang tidak ada orang di sekeliling nya.

Cara membaca Isti’adzah bersama Basmalah dan awal surah.

Ada empat cara.sebagai berikut :

1Memutuskan semua , dengan cara membaca Isti’adzah berhenti dengan nafas ,kemudian membaca basmalah berhenti dengan nafas ,kemudian membaca awal suroh .

2. Memutus yang pertama dan menyambung yang kedua dengan yang ketiga,dengan cara membaca Isti’adzah berhenti dengan nafas,kemudian membaca basmalah yang di sambung dengan awal surah dengan satu nafas.

3. Menyambung yang pertama dengan yang kedua dan memutuskan  yang ke tiga,dengan cara membaca Isti’adzah dan basmalah dengan satu nafas ,kemudian awal surah.

4. Menyambung semua , yakni membaca Isti,adzah,basmalah dan awal surah dengan di sambung dan satu nafas.

      Hukum membaca permulaan surah Attaubah.

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya surah At-Taubah tidak di awali dan tidak di dapatkan pada awal nya Basmalah,hal tersebut dikarenakan beberapa hal yang telah di sebut kan para ulama Qiroah, yang akan datang pembahasan nya dalam bahasan tentang basmalah,akan tetapi di sana ada Isti,adzah yang kita uacapkan ketika memulai membaca surah Attaubah.

Perlu untuk kita ketahui bahwasanya isti’adzah bukan termasuk Al-Qur’anulkarim dengan ijma ulama’,akan tetapi dari Sunnah Rosululloh, sebagaimana riwayat dari Nafi’ bin muth’im dari bapak nya bahwasanya Rasululloh beristi’adzah sebelum membaca Al-Qur’an beliau mengatakan  :          أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيطاَن الرَّجِيم  

    BASMALLAH .

Ketahui lah , bahwasanya Basmallah adalah dari sunnah Rasululloh,berkata Imam As-syathiby :

وَبَسْمَلَ بَيْنَ السُّوْرَتَيْنِ بِسُنَّةٍ             

“ Dan Basmallah di antara dua surah adalah dari sunnah Rasululloh,”

Tetapi para Ulama berbeda pendapat apakah basmallah termasuk ayat Al-qur’an atau pun bukan ,sebagian Ulama mengatakan bahwa basmallah bukan termasuk ayat Al-Qur’an dan ini adalah madzhab nya Ulama Malikiyyah, sebagian Ulama mengatakan ia termasuk dari Al-Qur’an, sebagaimana pendapat Ulama Syafi’iyyah,

Akan tetapi bagi kita sebagaimana yang kita ketahui bahwa Imam Hafsh  dari Imam Ashim mengatakan bahwasanya Basmallah termasuk surah Al-fatihah,dan sunnah di baca pada setiap suroh kecuali suroh Attaubah.

oleh karna itu,dapat kita fahami bahwa basmallah adalah termasuk surah dalam Al-fatihah,dan sunnah di baca pada awal surah-surah kecuali pada surah Attaubah ,maka tidak boleh di pisahkan antara surah Al-Anfal dengan Attaubah dengan basmallah.

Akan tetapi di sana mungkin timbul pertanyaan, mengapa surah Attaubah tidak di awali dengan basmallah ? dan bagaimana cara membaca dan memisahkan antara surah Al-Anfal dengan Attaubah ?

Jawab  : pertama,sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa surah Attaubah tidak di awali dengan basmallah,itu di kar- nakan  sebab ia diturunkan pada saat peperangan antara kaum muslimin dengan orang – orang kuffar dan musyrikin dan munafiqin,sedangkan basmallah penuh Rahmat  Alloh ta’ala,dan Rahmat  Nya tidak  di berikan kepada orang – orang kafir dan musyrikin.

Kedua : ada sebagian Ulama menyebutkan bahwasanya Al-Anfal dan Attaubah hakikat nya adalah satu suroh,berdasarkan isyarat dari Rasulullah,bahwa beliau di berikan tujuh surah yang panjang dari Al-baqoroh hingga Attaubah .

Tata cara membaca antara dua surah Al-Anfal dan Attaubah.

  1. Al-waqofu , yaitu berhenti pada akhir surah Al-anfal dengan bernafas,kemudian melanjutkan dengan membaca awal surah Attaubah tanpa basmallah.
  2. Assaktah ,yaitu berhenti pada akhir surah Al-anfal tanpa bernafas seukuran dua harokat,kemudian di lanjutkan membaca awal surah Attaubah tanpa basmallah.
  3. Al-washolu , yaitu menyambung antara akhir surah Al-anfal dengan Awal surah Attaubah, dengan tetap memperhatikan kaidah nahwu.

Tata cara membaca Basmallah di antara dua surah.

Sebagai mana yang kita ketahui,bahwa membaca Basmallah adalah dari sunnah Nabi,dan di sana ada sisi-sisi yang perlu kita perhatikan ketika membaca basmallah di antara dua surah.yaitu sebagai berikut  :

  1. 1.      Qoth’ul jami : yaitu memutus bacaan sampai akhir surah,berhenti  dengan bernafas kemudian membaca awal suroh.
  2. 2.      Qoth’ul awwal wa washola atstsaani bi tsaalits : yaitu memutus akhir suroh  di sertai dengan bernafas kemudian menyambung basmallah dengan awal suroh yang baru.
  3. 3.      Washolul jami’ : yaitu menyambung akhir suroh dengan basmallah dan awal suroh baru.

Akan tetapi tidak boleh menyambung akhir suroh dengan basmallah kemudian berhenti , dan melanjutkan awal suroh,

Pertanyaan nya mengapa hal tersebut tidak boleh ??

Jawab : Bahwasanya Basmallah di jadikan untuk awal suroh dan bukan untuk akhir suroh, oleh karnanya apabila hal tersebut di lakukan yakni membaca akhir suroh di sambung dengan basmallah lalu berhenti , kemudian membaca suroh baru, maka akan terkesan di telinga pendengar bahwa basmallah seolah –olah bagian dari suroh yang kita baca tersebut, begitulah yang di katakan Al-Imam As-Syatibhy :

ومهما تصلها مع أواخر سورة                                          

 

فلا تقفن الدهر فيها مثقلا                   

HUKUM NUN SUKUN DAN TANWIN

Sebelum kita mempelajari tentang hukum Nun sukun atau Tanwin , terlebih dahulu kita harus mengetahui apakah yang di maksud Nun sukun dan Tanwin .

Adapun yang di maksud dengan Nun sukun adalah yaitu Huruf nun yang tidak mempunyai harokat atau tanda baca, dan Nun sukun terdapat dalam Isim ( kata benda ) atau Fi’il ( kata kerja ) dan Huruf,dan ia senantiasa tetap dalam tulisan , ucapan , waqof, dan Washol.

Maksud nya Huruf nun tersebut di baca sukun, contoh :

إنـْسَانٌ  , الأنـْعَامُ  , , مُنـْـذِرٌ   dan contoh tersebut dalam Isim, adapun contoh bagi Fi’il ( kata Kerja ) :      أنـْعَمْتَ, تـَنـْْصُرُوا الله, تَنـْحِتُوْنَ

Dan juga dalam huruf, contoh :    مَنْ , عَنْ , إنْ

Adapun yang di maksud dengan Tanwin adalah : bunyi Nun sukun sebagai tambahan yang terdapat pada akhir sebuah kata Isim  ( kata benda ) .dan tidak nampak secara tulisan dan Waqof.

Tanwin di tunjukan dalam Mushhaf Al-qur’an berupa Fathatain,Katsrotain,dan Dhommatain.oleh Karena itu Tanwin adalah ibarat nun sukun tambahan dari bangunan sebuah kata,dan ia tidak terdapat  kecuali pada Isim ( kata benda ) saja,karena Fi’il ( kata kerja ) tidak memiliki Tanwin,adapun dalam Al-Qur’an yang kita temukan ada dua Fi’il yang bertanwin yaitu  :  لَنَسْفَعاً بِالنَّاصِيَةِ  dan  وَلِيَكُوناً مِنَ الصَّاغِرِينَ

Yang benar bahwasanya Tanwin yang  terdapat dalam Fi’il ( kata kerja ) dalam ke dua ayat ini adalah Nun taukid khofifah yaitu nun yang tidak bertasydid berfungsi sebagai penguat sebuah kata , sehingga asal        kata nya adalah :          يَكُوْنَنْ     ~    نـَسْفَعَنْ

Dan Fi’il ( kata kerja ) dalam ayat tersebut di tulis dengan tanwin karena nun taukid khofifah serupa dengan tanwin ketika waqof.dan tanwin ia tetap secara pendengaran dengan lafadz tapi tidak tetap secara tulisan , begitu juga ketika waqof dalam sebuah kata.

Kemudian , ketahuilah bahwa hukum Nun sukun dan Tanwin bersama huruf hijaiyyah mempunyai empat hukum yaitu :  Al-Izhhar , Al-Idghom , Al-Iqlab , Al-Ikhfa .

Al – izhhar halqy

            Izhhar secara bahasa adalah , jelas atau nampak, adapun secara Istilah adalah mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya huruf tanpa ghunnah dalam huruf yang di jelas kan.

Huruf – huruf izhhar halqy ada enam , dan di nama kan halqy karena huruf-huruf tersebut semua nya huruf halqy yang berasal dari tenggorokan , yaitu :                               ح – غ – خ  - ء – ه – ع

Dan sebagian Ulama Qiro’ah mengumpulkan nya dalam sebuah kalimat :

(أخِي هَاكَ عِلْمًا حازُ غَيْرُ خَاسِرٍ).

oleh karena itu hukum izhhar halqy adalah membaca nun sukun dengan jelas tanpa gunnah yang kuat ketika bertemu dengan huruf-huruf yang enam di atas yaitu huruf-huruf halqy ( tenggorokan ).

Dan marotib ( urutan ) izhhar halqy ada tiga  :

أقصى الحلق  Tenggorokan atas , yaitu huruf  ء    dan   ه

وسط الحلق  Tenggorokan tengah ,yaitu huru ع   dan   ح

أدنى الحلق Tenggorokan bawah, yaitu huruf    خdan   غ

Adapun sebab izhhar dan di jelaskan dalam pengucapan nya adalah karena jauh nya makhroj                   ( tempatnya keluar huruf ) yaitu huruf Nun dengan  huruf-huruf yang enam,di mana huruf nun sukun makhroj nya di ujung lidah sedangkan huruf yang enam makhrojnya di tenggorokan,sehingga berat untuk di lemburkan dan di gunnahkan.

Dan syarat izhhar halqy ia harus terletak setelah nun sukun dari huruf – huruf tenggorokan yang enam , dan izhhar halqy bisa terjadi dalam satu kata atau dua kata ,dan setelah tanwin tidak terjadi kecuali dari dua kata. Contoh  :

   Satu kata

Dua kata

Setelah tanwin

Huruf izhhar

ينْأوْنَ

منْ آمَنَ   

كـُفُوًا أحَد

ء

مِنـْهَاجًا

إنْ هُوَ

سَلامٌ هِيَ

ه

الأنْعَامُ

مِنْ عِنـْـدِ

أجْرًا عَظِيْمًا

ع

اَنـْحَر

فـَمَنْ حَاجَكَ

غَنِيًا حَمِيْدًا

ح

فـَسَيَنـْغُضُوْنَ

مِنْ غَيْرٍ

عَفـْوًا غَـفـُوْرًا

غ

المُـنـْخـَنِقـَة

إنْ خِفـْتـُمْ

نـَخْلٍ خَاوِيَة

خ

Hakikat izhhar dan tata cara membacanya.

Yaitu membaca nun sukun atau tanwin dengan tegas dan kuat,kemudian mengucapkan huruf izhhar halqy  tanpa berhenti pada nun sukun atau tanwin,dan tidak boleh diam atas nun,dan juga tidak boleh di putus dari huruf-huruf izhhar,sebagai mana terdapat keterangan dalam kitab Tuhfah :

فالأول الإظهار قبل أحرف

 

للحلق ست رتفلتعرف

همز فهاء ثمَّ عين حاء

 

مهملتان ثمَّ غين خاء

“ Maka izhhar adalah huruf tenggorokan yang enam, hamzah, ha, kemudian a’in, ha’ , lalu ghoin dan kho. “

 

Al-idghom .

Idghom secara bahasa adalah : memasukkan ,adapun secara istilah adalah memasukan huruf yang sukun kepada huruf yang berharokat setelahnya dengan cara menjadikan dua huruf tersebut seolah menjadi satu huruf yang bertasydid,contoh :

مَنْ   يَقـُوْلُ                 مَيَّــقـُوْلُ

Huruf-huruf idghom bersama nun sukun dan tanwin

         Ketahuilah bahwasanya huruf-huruf idghom ada enam     (ي, ر, م, ل, و, ن) dan terkumpul dalam kata : ” يَـرْمَـلـُوْنَ “

Huruf idghom

Setelah nun sukun

Setelah tanwin

Syarat idghom

الياء

مَنْ يُؤْمِنُ

قًَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

Syarat idghom adalah harus terdiri dari dua kata sebagaimana dalam contoh

النون

مَنْ نَشَاءُ

يَوْمَئِذٍ نـَاعِمَة   

الميم

مِنْ مَالٍ

دَرَجَاتٍ مِنْ

الواو

مِنْ وَرَقٍ

بنَِاءً وَأنـْزَلَ

   

Akan tetapi huruf –huruf ini terbagi menjadi dua:

  1. 1.      Idghombighunnah  .                                                                                                                                                        huruf – huruf nya ada empat :      و     ي , ن , م ,Yang  di singkat dengan   ( يـَنـْمُوْ )  maka apabila  nun  sukun atau tanwin bertemu dengan huruf – huruf yang empat tersebut maka wajib di lemburkan dan di dengungkan,dengan ukuran dengung selama dua harokat atau dua ketukan.contoh :

Idghom bighunnah juga di namai idghom naqishon di karenakan hilangnya huruf dna tinggal sifatnya saja,

Akan tetapi bagaimana apabila huruf-huruf idghom terdapat setelah nun sukun dalam satu kata ?

Jawab : wajib bagi kita mengghunnahkan nya walaupun dalam satu kata,kecuali pada empat kata dalam Al-Qur’an yaitu  دُنـْيا- صِنـْوَانٌ- قِـنـْوَانٌ- بُـنـْيانٌ  

  1. 2.      Idghom bilaa ghunnah,                                                                             huruf-huruf nya ada dua : ل , ر  

Apabila kedua huruf tersebut di dahului oleh nun sukun atau tanwin maka wajid di idghomkan tapi tanpa ghunnah, contoh : فـَمَنْ لـَمْ يَجـِدْ      

 

Huruf  idghom

Nun sukun

Tanwin

Syarat idghom

ل

فإنْ لـَمْ

سَلامٌ لـَكَ

idghom di syarat kan terdiri dua kata

ر

مِنْ رِزْقِ الله

أخْذَةً رَابـِيَةً

Contoh idghom tanpa ghunnah :

Idghom bilaa ghunnah juga di sebut idghom kaamilan   ( sempurna ) karena hilang nya huruf dan sifat dari kedua huruf tersebut.dan sebab idghom nya adalah karena dekat nya makhroj dan sama dalam jenis dan sifat nya.

Al-iqlab.

Al-iqlab secara bahasa adalah ; mengganti, adapun secara istilah adalah menjadikan nun sukun atau tanwin sebagai mim secara lafadz dan pengucapan serta sifatnya, di sertai dengan ghunnah yang sempurna,dan bahwasanya iqlab ia hanya mempunyai satu huruf yaitu Ba     ب .

Maka  apabila   terdapat   huruf  Ba  setelah   nun   sukun atau tanwin wajib menggantikan huruf Ba tersebut dengan huruf Mim bersama ghunnah , contoh :                             أنْـبَـئـَهُمْ , , مِنْم بَعْـد , سَمِيْعُم بَصِيْر

Dan perlu kita ketahui bahwasanya iqlab terdapat dalam satu kata atau dua kata , dan begitu juga tanwin tidaklah ia terjadi kecuali dalam dua kata.

Timbul pertanyaan, mengapa nun sukun di ganti dengan mim dalam hukum Iqlab ?

Jawab : karena huruf mim adalah huruf yang satu berserikat dengan huruf nun di dalam sifat ghunnah atau dengung, dan berserikatnya huruf Ba di dalam makhroj.sehingga berat untuk di izhharkan ketika nun sukun bertemu dengan huruf Ba,dan berat juga untuk di idghom kan huruf nun sukun dengan Ba,sehingga terpilihlah huruf mim sebagai jalan penengah untuk menyatukan kedua huruf tersebut.

Al-Ikhfaa haqiqy

Ikhfa secara bahasa adalah ; tutup , layar , atau penghalang .adapun secara istilah adalah mengucapkan huruf dengan sifat apa-apa yang antara izhhar dan idghom,dengan cara menyamarkan bacaan nun sukun atau tanwin ketika bertemu huruf-huruf ikhfa haqiqy yang lima belas,maka tidak di izhharkan atau di jelaskan huruf nun sukun secara sempurna sebagaimana huruf izhhar,dan juga tidak di idghomkan secara sempurna sebagai mana hukum idghom,akan tetapi di antara keduanya , izhhar dan idghom.

Di nama kan ikhfa haqiqy karena tidak ada ikhtilaf di kalangan ulama qiro’ah tentang nya baik dari penamaan atau penyebutannya.

Huruf ikhfa haqiqy ada lima belas yang semua nya terkumpul dalam  sebuah bait   :                                                                  دم طيبًا زد في تقى ضع ظالمًا                                      صف ذا ثنا كم جاد شخص قد سما

         

            

 

Ikhfa haqiqy terdapat dalam satu kata atau dua kata, dan setelah tanwin dengan dua kata.contoh :

huruf

Satu kata

Dua    kata

Setelah tanwin

ص

تـَنـْصُرُوا

مَنْ صَلـَحَ

ريحًا صَرْصرًا

ذ

مُنـْذِرِيْنَ

مِنْ ذ ُنـُوْبكم

سِراعًا ذلـِك

ث

مَنـْثـُوْرا

مِنْ ثـَمَرَة

جَمِيْعًا ثمَّ

ك

يَنـْكِثـُوْنَ

مِنْ كـُل

شَعِيـْبًا كانُوا

ج

أنـْجـِيْناكـُم

إنْ جَاءَكـُمْ

فـَصَبْرٌ جَمِيْلُ

ش

أنـْشَأتـُمْ

فـَمَنْ شَاءَ

علمٍ شيئًا

ق

مُنـْقـَلِبُ

مِنْ قـَبْلِ

ثـَمَنًا قليلاً

س

تـَنْسِلـُوْنَ

وَلِئنْ سَألتَهُمْ

عَابِدَاتٌ سَائِحَاتُ

د

أنـْدَادًا

مِنْ دُوْنِ

قِنْوَانٌ دَانِيَة

ط

اِنْطِلقـُوا

مِنْ طَيـِبات

صَعِيْدًا طيبًا

ز 

مُنـْزِلِيْنَ

مِنْ زَكـَاها

يَوْمَئِذٍ زَرَقًا

ف

مُنـْفـَكِيْنَ

مِنْ فـَوْقِهـِمْ

مُتَشَابِهَاتٌ فأما

ت

أنـْتـُمْ

مِنْ تـَحْتـَهَا

جَناتٍ تجري

ض

مَنـْضُوْد

مَنْ ضَل

مَسْجِدًا ضَرَارًا

ظ

يَنْظـُرُوْنَ

مِنْ ظَهـِيْر

ِظلاً ظليلاً

Ketahuilah bahwasanya ikhfa haqiqy mempunyai tiga tingkatan  :

1 . A’laa ( paling tinggi ) , huruf-huruf nya adalah :  ط   ,  د ,  ت

Bahwasanya derajat ikhfa untuk nun sukun atau tanwin ketika bertemu dengan huruf-huruf tersebut sangat besar,di mana bagian nun sukun atau tanwin lebih banyak hilang dari pada yang tersisa ketika mengucapkannya sehingga pengucapan nun sukun atau tanwin  lebih cendrung kepada huruf yang terletak sesudah nya.

2. Adna, ( paling rendah ) huruf-hurufnya adalah  :  ق  ف

Bahwasanya tingkatan ikhfa haqiqy nun sukun atau tanwin ketika    bertemu dengan huruf tersebut lebih rendah , di mana bagian nun sukun atau tanwin lebih banyak dari pada yang hilang ,

3 .Adapun sisa dari huruf-huruf ikhfa haqiqy maka ia masuk bagian  Mutawashit yaitu pertengahan , di mana nun sukun atau tanwin bagiannya yang tetap sama dengan bagian yang hilang.

               HUKUM – HUKUM MIM SUKUN.

         Mim sukun adalah huruf yang tidak mempunyai harokat , dan ia terdapat dalam al-qur’an   sebelum huruf-huruf hijaiyyah kecuali huruf-huruf mad yang tiga.

Hukum mim sukun terbagi menjadi tiga :

  1. 1.      Ikhfa syafawy.
  2. 2.      Idghom ( mitslain shoghir).
  3. 3.      Izhhzar syafawy .
  4. 4.       
  1. Ikhfa syafawy.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwasanya ikhfa adalah mengucapkan huruf antara Izhhar dan idghom.

Izhhar syafawy  hanya mempunyai satu huruf yaitu “ Ba “

Sehingga apa bila huruf Ba terletak setelah mim sukun, maka wajib di ikhfakan mim sukun,dan dinamai dengan ikhfa syafawy atau syafawy karena dengan sebab huruf mim keluar dari kedua bibir,contoh  :

                وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّه               وَهُمْ بِالْآخِرَة

Syarat ikhfa syafawy,dia harus terbentuk dari dua kata,dan selamanya nya tidak pernah terbentuk satu kata.

  1. B.     Idghom mitslaini shoghir .

Hukum yang kedua dari hokum mim sukun adalah idghom,dan sebagai mana yang telah kita ketahui yang telah lalu , bahwa sanya idghom adalah mengucapkan dua huruf seprti  yang  kedua bertasydid, dengan  kata lain apabila  datang huruf mim yang berharokat setelah huruf mim yang  sukun  maka dia  masuk  kepada  hukum  idghom  mitslain shoghir, maka  jadilah  kedua nya menjadi satu mim yang bertasydid, contoh :                                       لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِم                   إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Kedua contoh tersebut terdapat dua huruf yang sama dari segi jenisnya, tempat makhrojnya,dan sifatnya,sehingga menjadilah keduanya menyatu satu huruf yang bertaydid.adapun syarat dari idghom mitslain adalah harus terdiri dari dua kata.

  1. C.   Izhhar syafawy .

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa yang maksud dengan Izhhar secara bahasa adalah “ jelas” di mana mengeluarkan setiap hurufnya tanpa ghunnah yang sempurna,sehingga yang di maksud dengan Izhhar syafawy adalah apabila mim sukun bertemu dengan huruf-huruf Izhhar syafawy maka mim sukun tersebut harus di baca jelas, contoh :

لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ   أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ  أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ        

Huruf

Mim sukun dalam satu kata

Mim sukun dalam dua kata

ء

 

 

 

الظَمْآنُ

عَلَيْكُمْ أنْفُسَكُم

ت

أمْتا

أمْ تَأْمُرُهُم

ث

أمْثالُكُم

مَرْجٍِِعُكُمْ ثمَّ

ج

-

وما جعلناهم جسدًا

ح

يَمْحَقُ

أمْ حَسِبْتَ

خ

-

أمْ خَلَقُوا

د

وَأمْدَدْنَاهُمْ

عَلَيْهِـمْ دَائِِِِرَةُ السُوْء

ذ

-

وَابْتَعْتُهُمْ ذُريَتَهُمْ

ر

أمْرٍِا

 

 

 

رَبُكُمْ رَبُ السَمَاوَاتِ

ز

رَمْزا

أمْ زَاغَت

س

تَمْسُوْنَ

فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِق

ش

أَمْشَاج

لََهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيْمٍ

ص

-

وهم صاغرون

ض

وَامْضُوا

أَلْفُوْا آبَاءَهُمْ ضَالِيْن

ط

وَأمْطَرْنا

مَسَّهُمْ طَائِِف

ظ

-

وهم ظالمون

ع

أَمْعَاءُهُمْ

هُمْ عَنِ اللَغْوِ

غ

-

فَإنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ

ف

-

وَهُمْ فَرِحُوْنَ

ق

-

بل هم قوم يعدلون

ك

يَمْكُثُ

إلَيْكُمْ كِتابًا

ل

وَأَمْلِي

أَمْ لَهُمْ

ن

تَمْنَى

مَسَّتْهُمْ نُفْحَة

ه

يَمْهَدُوْنَ

بُرْهَانَكُمْ هَذَا

و

أَمْوَاتٌ

حِسَابَهُمْ وَهُمْ

ي

عَمِيًا

أَمْ يُرِيْدُوْنَ

Perlu kita perhatikan bahwasanya apabila datang huruf        و  dan  ف  setelah mim yang sukun , maka keadaan mim yang sukun tersebut di Izhharkan lebih kuat, hal itu di karnakan huruf  “ Waw”  satu jenis dengan mim dari segi makhrojnya,dan begitu pula huruf  “ Fa  “ dekat makhrojnya dengan huruf mim.

 

             HUKUM NUN DAN MIM TASYDID.

Ketahuilah bahwa setiap nun dan mim bertasydid wajib di baca Ghunnah,( dengung ) contoh :                    إنَّ الله    /    ثمَّ أنتم

Dan yang di maksud dengan ghunnah adalah suara yang dengung yang enak di telinga ketika mengucapkan nun dan mim tasydid, dan tempat keluarnya adalah di khaisyum yaitu rongga hidung , dan ukuran ghunnah nya selama dua harokat atau dua ketukan, tidak boleh kurang atau lebih tapi harus pas dua harokat, adapun cara untuk mengukur ketukan adalah dapat dilakukan dengan cara membuka dan menutup telapak tangan dengan ukuran tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat akan tetapi di antara keduanya. Hal ini bisa di praktekkan bersama guru.

Perlu untuk kita ketahui bahwasanya ghunnah itu mempunyai tingkatan –tingkatan sebagai berikut :

1 .Ghunnah yang paling kuat , yaitu pada nun dan mim  bertasydid, contoh :                              إنَّ الله   /   ثمَّ أنتم               

2 . Di dalam Idghom , contoh :

مَنْ يـَّقُـوْلُ, مِنْ مَّالٍ, لـَكُمْ مَّا سَألْتُمْ 

  3  . Di dalam Ikhfa   contoh :         أنْ صُدُوْكُمْ, مَنْ جَـاءَ     

  1.  Di dalam Izhhar , contoh :                    مَنْ آمَنَ, مَنْ عَمِلَ
  2.  Di dalam huruf nun dan mim yang berharokat , contoh :

  الـَّذِيـْنَ آمَنُوْا…

Hal tersebut terjadi di karnakan bahwasanya huruf Nun dan Mim keduanya mempunyai sifat lazimah yang senantiasa melekat pada ke duanya yaitu sifat Ghunnah, akan tetapi ia berbeda dalam tingkatan ghunnah nya .

Dan perlu untuk kita ketahui juga bahwasanya ghunnah senantiasa mengikuti apa-apa yang yang sesudah nya dari sisi tebal dan tipis nya huruf,dan ini dalam keadaan Idghom dan Ikhfa, maka apabila setelah nun atau tanwin terdapat huruf yang tebal maka nun skun atau tanwin tersebut juga di tebalkan dalam membacanya, dan begitu pula sebaliknya.

            MAD ( BACAAN PANJANG )

Ketahuilah bahwasanya asal dari pembahasan ini adalah apa yang telah di nukil dari Ibnu Mas’ud , dimana ada seorang laki-laki membaca ayat ;

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِوَالْمَسَاكِينِ  

 

Maka ia baca pada tempat yang panjang menjadi pendek , sehingga Ibnu Mas’ud menegurnya dengan berkata “apa ini ?!, sesungguhnya Rosululloh telah membacakan ayat ini di hadapan ku, laki-laki tersebut berkata : bagaimana beliau membacanya ? maka Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan memanjangkan pada tempat bacaan yang panjang,dan berkata :  “beginilah Rosululloh membaca kepadaku”.( Diriwayatkan oleh Imam At-tabroni dengan sanad  yang shohih).

Oleh karenanya perlu kita ketahui tentang mad,dan akan kita bahas secara tafshil.

Yang pertama, Mad secara bahasa adalah : Azziyaadah yaitu“ tambahan “, sebagaimana Alloh berfirman ;

         وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِين                                                                       “  Dan di tambahkan bagi kalian harta dan anak “               ( QS, Nuh : 12 )

Adapun secara istilah yaitu , memanjangkan suara dengan huruf dari huruf-huruf  Mad yang tiga ketika hurufhijaiyyah bertemu dengan tiga huruf tersebut yang dalam keadaan sukun.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui tentang mad yang artinya memanjangkan, maka di sana ada lawan dari mad yaitu Qoshor atau memendekkan,

Qoshor secara bahasa adalah “ pemenjaraan , “ adapun secara istilah adalah menetapkan huruf mad tanpa ada tambahan .Akan tetapi di sana ada tingkatan yang lain  antara Mad dan Qoshor, yaitu Tawasshut ( pertengahan )

Tawasshut secara bahasa adalah “ al-I’tidal “ yaitu “ Tengah-tengah antara dua hal ,seperti firman Alloh ta’ala :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً

  “ Dan telah Kami jadikan kalian ummat yang pertengahan “

Adapun secara istilah yaitu ; Satu tingkatan antara qoshor dan Mad , yang mana Qoshor ukuran nya dua harokat sedang kan Tawasshut ukurannya empat harokat dan Mad ukuran nya enam harokat .

Yang kedua ,huruf Mad dan Liin .

Ketahuilah bahwasanya huruf Mad ada tiga yaitu : “Alif ,” yang fathah sebelumnya ,” Waw “ yang dhommah sebelumnya

Dan  “ Ya “ yang sukun sebelumnya ,sebagaimana perkataan Imam Al-jazury  “

حـروفـهـا ثـلاثـة فـفـيها 

 

من لفظ واي وهي في نوحيها 

والكسر قبل الياء وقبل الواوضم

 

شرطٌ وفتحٌ قبل ألف يُلْتَزَمْ

“  Huruf-huruf Mad ada tiga, yang terkumpul dalam kata :   نـُوْحِيْهَا   Kasroh sebelum  YA  Dhommah sebelum WAW  dan syarat fathah sebelum ALIF.

Berikut contoh ringan dari ketiga Mad tersebut :

” قَالَ “        Fathah sebelum Alif

” يَقُوْلٌ “      Dhommah sebelum Waw.

” قِيْلَ “      Kasroh sebelum  Ya .

Adapun yang di maksud huruf Liin adalah huruf  YA  dan  WAW yang dalam keadaan sukun dan di fathahkan sebelumnya , dan tidaklah datang huruf setelah nya kecuali satu huruf . contoh :

    بَيْتٌ – خَوْفٌ – شَيْءٌ – نَوْمٌ

 

Berkata Imam Sulaiman Al-jamzury :

واللين منهما واو وياء مسكنًا
ً

 

إن انفتاح قبل كلٍ أعلنا

“ Huruf Liin adalah Waw dan Ya yang di sukun kan , dengan di fathahkan sebelum keduanya. “

Pembagian Huruf Mad .

Mad terbagi menjadi dua ,yaitu Mad Ashli dan Mad Far’i

  1. 1.      Mad Ashli  adalah : mad yang tidak terjadi dengan sebab tertentu , dan tidak dengan sebab huruf-huruf yang datang kepada nya.dalam artian dzat sebuah kalimat tidak akan muncul kecuali dengan nya.

Dan di namai juga Mad ashli dengan Thobi’iy, Karena orang yang membaca  nya secara fitroh tidak akan mengurang dan menambah ukuran bacaannya selama dua harokat , contoh :

يَـقـُوْل        قِـيْـلukuran panjang nya dalah dua harokat,

Dan bagi Mad Thobi’iy ia mempinyai beberapa keadaan , yaitu :

  1.  Tetap ketika Washol dan Waqof , contoh :    فَلاَ تَجْعَـلُوْا
  2.  Tetap ketika Washol dan tidak ketika Waqof, contoh    :

          بِـهِ~ بَـصِـيْـرًا

  1.  Tetap pada Waqof dan tidak pada Washol , yaitu setiap tanwin yang Waqof dan dalam keadaan fathah , contoh :

        حَـكِـيْـمًا  عَـلِيْـمًا,

      Dan setiap huruf Mad yang bertemu dengan huruf yang sukun setelah nya , maka huruf mad tersebut di buang dan tidak di baca , contoh  :   

 كانَتَا اثْنَتَيْن, قَالاَ الـْحـَمْدُ ِلله

 

 2 . Mad Far’iy . adalah ia tegak dengan sebab tertentu , dan ia merupakan mad tambahan dari mad ashli , oleh karena itu panjang mad nya dengan sebab. Adapun sebab dari mad far’iy adalah adany hamzah yang sukun dengan jenisnya :

      Pertama : Hamzah ,

                      dan ia mempunyai tiga jenis dan sebab ,yaitu :

Mad muttashil , Mad Munfashil , dan Mad Badl .yang akan kita bahas satu persatu InsyaAlloh .

      1 . Mad Muttashil , adalah : huruf mad yang datang bersamaan dengan hamzah dalam satu kata .

يَشَاءُ . سُوْءُ . السَّمَاءُ .  جِيْءُ    hamzah di akhir kata .

      المَلائِكَة  .  خَطِيْئَاتكُمْ  .  سُوْءَاتكُمْ   hamzah di tengah kata .

Perlu di ketahui bahwasanya mad muttashil terbagi menjadi dua :

      Hamzah yang di akhir kata , yaitu :

A .  hamzah yang di akhir dalam keadaan Fathah,contoh:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

B . Hamzah yang di akhir dalam keadaan Dhommah,

                                       أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا 

   C . Hamzah yang di akhir dalam keadaan Sukun , contoh :

أَفَلـَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْف  بَنَيْنَاهَا

    Hamzah yang terletak di tengah kata , Yaitu  :

  Yang mana Hamzah terletak di tengah –tengah kata contoh :

  الْمَلائِكَةُ   خَطِيئَاتِكُمْ    سَوْآتِكُمْ .

  Hukum mad muttashil wajib untuk di mad kan atau di panjangkan ,  tidak boleh di qoshor atau di pendekkan bacaanya selamanya,dan ia telah di sepakati oleh ulama qiro’ah yang empat belas, sebagai mana yang telah di katakana oleh Imam Sulaiman Al-jazury.

Dan ukuran Mad Muttashil adalah  di mulai empat harokat sampai lima harokat hingga enam harokat jika dalam keadaan di waqofkan.

  1. 1.      Mad Munfashil

      Yaitu  huruf  Mad  yang  bertemu  dengan huruf Hamzah pada kata yang berbeda , contoh :                                                                 إِنَّا أَنْزَلْنَاه         ,     قَالَ إِنِّي أَعْلَم    ,      , قَالُوا آمَنّ

Adapun hukum Mad Munfashil hukumnya nya boleh yakni boleh untuk di Qoshor ( pendekkan ) atau Mutawashit ( pertengahan ) atau di panjangkan ,sebagaimana kesepakatan seluruh Ulama Qiro’ah ,

وجائز مدٌ وقـصر إن فـصل

 

كل بكلمة وهذا المنفصل

“ Dibolehkan memanjangkan dan memendekannya atau di antara keduanya, jika berpisah setiap kata “

Dalil ini menunjukan kepada ke umuman cara membaca mad munfashil yaitu tiga cara yang kita sebutkan di atas.dan yang menguatkan perkataan tersebut adalah Imam Ashim dan Riwayatnya Hafsh,dan begitu juga bacaan Tawashut dengan ukuran empat atau lima harokat,sebagaimana yang di nukil oleh Syaikh Badr Hanafy Mahmud.

 

Adapun sebab Mad Munfashil , atau tujuan dan maksudnya adalah,sebagaimana yang telah dijelas kan oleh para ulama Qiro’ah, yaitu bahwa sanya ia dipanjangkan membacanya di sebabkan huruf hamzah,yang mana huruf hamzah lebih kuat dari huruf mad sehingga kita panjang kan huruf mad yang lemah tersebut dalam rangka untuk menjelaskan dan agar nampak perbedaan keduanya.dan di sini akan kita sebutkan perbedaan antara huruf mad dan hamzah,

1 . Dari sisi makhroj atau tempat keluarnya huruf , Hamzah ia keluar dari pangkal tenggorokan sedangkan huruf mad keluar dari rongga mulut.

2. Dari sisi kuat dan lemahnya huruf, Hamzah adalah huruf yang kuat dalam penlafadzan sedangkan huruf mad lemah dalam lafadznya.

3. Dari sisi penulisan,dimana hamzah ditulis dengan disertai harokat sedangkan huruf mad tidak di sertai dengan harokat.

4. Dari sisi Ushul dan cabang , Hamzah adalah huruf yang ushul atau asal, sedangkan Huruf mad adalah cabang .

Perlu kita ketahui bahwasanya Mad Munfashil boleh di baca seukuran dua harokat,yang demikian adalah riwayat Hafsh dari Thoriq Ath-thoiyyibah,akan tetapi dengan syarat di mana perlu kita mempertimbangkan khilaf dan perbedaan antara Syathibiyyah dan Thoyyibah,dan di sana kedua thoriqoh atau jalan tersebut mengqhoshor atau memendekkan Munfashil dari Jalan Thoyyibah dan Jalan Mishbah dan Jalan Roudhoh Al-mu’dal .

3.Mad Badal

Mad Badal adalah : mendahulukan hamzah dari pada huruf mad , contoh :       ءَامَـنُوْا  .  إيْمَـانـاً  .  أُوْتـُوْا

Dalam contoh di atas kita melihat hamzah terletak sebalum huruf mad , dalil yang menunjukan hal tersebut adalah perkataan para Ulama :

أو قدِّم الهمز على حرف المد  وذا                

 

بدل كآمنوا إيمانًا خذا

“hamzah di dahulukan atas huruf mad,seperti ءَامَنُوْا  .  إيْمَاناً  .  أُوْتـُوا

Dalam mad Badal ada sebab terjadinya mad badal tersebut,yaitu ia berasal dari dua hamzah , kemudian di ganti hamzah yang kedua dengan huruf mad dari jenis yang sama dalam harokat untuk hamzah yang pertama,dalam rangka untuk memudahkan dan meringankan bacaan, contoh :

ءَامَنُوْا    asal nya adalah             أَأَمَنُوْا

إيْمَاناً      asal nya adalah              إإمَاناً

أُوْتـُوْا      asal nya adalah               أُأُتـُوْا

Adapun hukum mad badal adalah boleh, maksudnya boleh untuk di Qoshor  ( pendek) atau Tawashut ( pertengahan) atau Di mad kan ( di panjangkan )

Akan tetapi perlu untuk kita ketahui bahwa mad badal untuk Qoshornya bagi seluruh para Qurro ( Ulama Qiroah ) seukuran dua harokat,Tawashut empat harokat dan Mad enam harokat, di antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Wars.

Pertanyaan , apa perbedaan antara mad Muttashil , Munfashil , dan Mad badal ?  jawab nya ..

perbedaan

Muttashil

Munfashil

Badal

 

 

Definisi

Huruf mad dan hamzah dalam satu kata , contoh

(شَاءَ )

Huruf mad terdapat pada akhir kata yang pertama dan hamzah terletahk di awal pada kata yang ke dua, contoh :

 (يَا أيـُّهَا)

Huruf hamzah mendahului huruf mad dalam satu kata, contoh :

 (ءَامَنـُوْا)

 

Secara Hukum

Hukumnya wajib , artinya tidak boleh di Qoshor atau di baca pendek

Hukumnya Jaiz atau boleh artinya : boleh untuk di baca Qoshor , tawasshut,atau panjang

Hukumnya Jaiz atau boleh artinya : boleh untuk di baca Qoshor , tawasshut,atau panjang

Ukuran panjang

Ukuran panjangnya empat sampai lima harokat ketika washol,dan enam harokat ketika waqof

Ukurannya empat sampai lima harokat ,menurut Imam Hafsh dari Ashim ukurannya empat harokat

Ukurannya dua harokat menurut para ulama qiro’ah di antaranya Imam Hafsh dari ‘Ashim dengan pengecualian Imam Wars yang mempunyai tiga sisi

Sebab nya

 

Sebab Mad muttashil adalah hamzah

Sebab mad  munfashil adalah hamzah

Sebab mad badal adalah hamzah

 

 

Sisi Mad nya

Bahwasanya huruf mad adalah lemah,dan hamzah huruf yang kuat maka kita memanjangkan yang lemah agar Nampak jelas hamzah yang kuat

Bahwasanya huruf mad adalah lemah,dan hamzah huruf yang kuat maka kita memanjangkan yang lemah agar Nampak jelas hamzah yang kuat

Asalnya dua hamzah,yang pertama berharokat dan yang kedua sukun,maka diganti  yang suku dengan jenis yang berharokat dalam rangka untuk kemudahan dan ringan dalam membaca

 

 

 

 

Kedua

   Sebab yang kedua dari sebab mad Far’I adalah sukun, perlu untuk kita ketahui bahwa sukun terbagi menjadi dua :

1 . sukun Aridhoh yang merupakn akibat dari waqof sebuah kata.

2.  sukun lazim dari bangunan kata.

Penjelasan :

Pertama mad aridh terbagi menjadi dua :

  1. Mad aridh lissukun , artinya huruf mad thobi’y yang jatuh sebelum dalam keadaan waqof , tidak dalam keadaan washol,contoh :(الرَّحْمَن)  atau   (الرَّحِْيم) atau (تـَعـْلـَمُوْنَ )

di mana ia di waqofkan ketika membaca kata-kata tersebut dengan sukun pada akhir kata , karna asal dari pada hukum  waqof adalah sukun.

Hukumnya  adalah jaiz atau boleh  bagi pembaca untuk mengqoshor nya , tawashut ,atau memanjangkan nya sebagaimana yang telah kita singgung pada penjelasan di atas ,akan tetapi dengan syarat tetap pada kondisi tetapnya ukuran panjang bacaan, maksudnya apabila ia membaca dengan qoshor dua harokat maka selamanya di baca dua harokat,dan begitu seterusnya.

Hal yang perlu di perhatikan adalah, bahwasanya mad aridh lissukun tidaklah terjadi kecuali ketika waqof pada sebuah kata, adapun ketika washol maka tetap di baca mad thobi’y dengan ukuran dua harokat.

Dan mad aridh lilsukun mempunyai tiga jenis , yaitu : marfu’ atau dhommah , manshub atau fathah , majrur atau kasroh , hal ini di karnakan bahwa ketiga hal tersebut adalah untuk yang mu’rob , sedangkan dhommah , fathah , dan majrur untuk mabny . hal ini dari sisi bahwasanya kalam terdiri dari mu’rob dan mabniy,

Pertama ; manshub dan fathah, contoh :   (العَالمَِيْنَ) maka di dalam nya ada tiga sisi , yaitu Qoshor,Tawashut, panjang atas sukunnya murni , dan dia adalah sukun yang sempurna

Kedua  : Majrur dan kasroh , contoh : (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ).

Di dalamnya ada empat sisi , tiga dengan sukun yang murni dan qoshor bersama roum, yang mana ia datang dengan sebagian harokat dengan suara yang di terdengar dekat dan tidak jauh.

         Ketiga : marfu’ atau dhommah, contoh :        (نَسْتَعِيْنُ)  .

  1. 2.      Mad liin ,yaitu huruf waw dan ya dalam keadaan sukun yang di fathahkan sebelumnya,dan tidaklah dating setelahnya kcuali satu huruf, contoh :     صَيْف ، خَوْف

Adapun hukumnya boleh untuk di qoshor,tawasshut, atau di mad kan ( di panjangkan ) dan hal tersebut terjadi pada akhir kata dalam keadaan waqof, dengan syarat bahwasanya lafadz di dalam persamaannya seperti contohnya,sebagaimana yang telah kita bahas pada mad aridh lissukun,dan perlu juga untuk kita ketahui bahwa mad liin kedudukannya di bawah mad aridh lissukun sebagaimana yang di jelas kan oleh para ulama qiro’ah.

Dan perlu di ketahui bahwa mad aridh lissukun dan mad liin mempunyai sebab yang sama , yaitu karena sukun aridh.

Kedua Mad laazim , yaitu apabila huruf yang Tsabit       ( tertentu)   datang setelah huruf mad dalam keadaan washol atau waqof,contoh :                                                      دآبَّـة               .    . الحـآقَّة    . كـآفَّة    الـم.

hukum mad lazim adalah wajib yaitu wajib di baca enam harokat,oleh karena itu berkata Imam Al-jazuriy ;

ولازمٌ إن السكون أصلاً

 

وصلاً ووقفًا بعد مد طول

“ Wajib mad lazim di panjang kan dalam keadaan washol atau pun waqof “

Pembagian mad lazim, terbagi menjadi empat macam :

  1. A.  المد اللازم الكلمي المثقَّل  ( mad lazim kilmy mutsaqqol) yaitu huruf mad yang datang dalam keadaan washol atau waqof dalam satu kata dan tasydid setelah  huruf mad, contoh ;  (الحـآقّة)  (الصَّاخَّة) (يُحآجُّوْنَ)  hukumnya wajib di baca enam harokat,
  2. B.  المد اللازم الكلمي المخفَّف ( mad lazim kilmy mukhoffaf) yaitu apabila terdapat huruf sukun 6jatuh sesudah mad badal,dalam keadaan washol atau waqof dalam satu kata.

Hukumnya wajib di panjang kan seukuran enam harokat,dalam Al-Qur’an contoh mad lazim kilmy mukhoffaf hanya dua tempat   آلْآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُون ( Suroh yunus ; 51) آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ  ( Suroh yunus : 91)

C.   المد اللازم الحرفي   ( mad lazim harfu ) perlu untuk kita ketahui bahwa mad lazim harfu tidak akan terjadi kecuali pada awal suroh, yaitu pada huruf hijaiyyah, contoh :    الـم ، الـر                                       ,   حـم

dan  para ulama Qiro’ah telah meneliti bahwa huruf hijaiyyah yang  menjadi awal  pada surah adalah  sebagaimana terkumpul pada kalimat berikut ini :                        (صله سحيرا من قطعك) oleh karena itu para ulama telah membagi huruf-huruf yang empat belas yang di mulai dengan nya suroh-suroh dalam Al-qur’an , menjadi tiga bagian :

  1. Tidak di panjang kan secara asal, dan ia hanya satu huruf yaitu Alif.
  2. Di panjangkan enam harokat,huruf- hurufnya ada delapan yang terkumpul dalam kalimat “كـم عـسل نـقص”.
  3. Di baca dengan mad thobi’y , yang ukurannya dua harokat, dan ia ada lima huruf yang terkumpul dalam kalimat   (حي طهر)

   Bagian

Huruf hijaiyyah

Ukuran panjang nya

pertama

الألف (ا)

Tidak ada mad bagi nya

 kedua

الكاف (ك)

Di baca enam harokat

 

الميم (م)

 ”  ”    “

 

العين (ع)    

”  ”    “

 

السين (س)

”  ”    “

 

اللام (ل)

”  ”    “

 

النون (ن)

”  ”    “

 

القاف (ق)

”  ”    “

 

الصاد(ص)

”  ”    “

ketigaً

الحاء (ح)

Mad thobi’iy dua harokat

 

الياء (يا)

”   ”      “

 

الطاء (طا)

”   ”      “

 

الهاء  (ها)

”   ”      “

 

الراء  (ر)

”   ”      “

Di sana ada yang perlu untuk kita ketahui , bahwa ada macam yang lain dari perkara yang di panjangkan kana tau mad yaitu :

  1. Mad ta’zhim , yang di sebut juga mad maknawiy,yaitu mad yang tidak terjadi kecuali untuk menetapkan uluhiyyah bagi Alloh ta’ala contoh :  .{اللهُ لَا إلهَ إلاَّ هُوَ}  {لاَ إلهَ إلاَّ أنـْتَ سُبْحَانـَكَ}
  2. Mad tamkin yaitu dua huruf  “ ya “ salah satu nya sukun dan kasroh sebelum akhirnya contoh ;    عِلِّيِيْن   ,  يُحيِّي

Atau dua waw contoh :       وَإِنْ تَلْوُوا   ,     قَالُوا وَهُمْ

  1. Mad Iwadh ,yaitu mad yang ketika waqof dalam keadaan tanwin yang manshub dengan fathah di akhir kalimat dengan alif yang di mad kan , yang mana ukuran nya dua harokat, contoh :       حَكِيْمًا ، عَلِيْمًا ، كَبِيْـرًا kecuali pada taautta’nits marbuthoh yang tanwin manshub maka ketika waqof di baca dengan “  ha  “ .
  2. Mad shilah shughro atau di sebut juga shilah qoshiroh atau shilah kibro, dimana Imam Hafsh dari A’shim lebih menekan kan pada maknanya yaitu mad pada “ha” dhomir ghoib secara lafzhiyyah apabila kasroh sebelum nya,atau waw secara lafzhiyyah yang dhommah sebelumnya contoh :

  وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ    ,  ،   إِنَّهُ كَانَ     فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَة

Maka cara membacanya dengan mad thobi’iy dengan ukuran dua harokat , adapun apabila “ ha “ dhomir tersebut terletak sebelum hamzah maka panjang nya mad munfashil dengan ukuran empat sampai lima harokat , contoh :

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِه      ,   عِلْمِهِ إِلَّا

Perhatian !! , bahwa mad shilah hanya terjadi pada keadaan washol adapun dalam keadaan waqof maka ia waqof dengan sukun .

5 .Mad al – farqu ,mad ini adalah di antara bentuk dari  mad lazim kilmy dan di nama kan Al-farqu karena ia membedakan khobar dengan istifham , dan jenis mad ini tidak di temukan dalam al-Qur”an kecuali pada enam tempat yaitu :

  • في سورة)الأنعام(143: :}قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ {.
  •  في سورة) يونس(59 :: } آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ{.
    •  في سورة) النمل(59:: } آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ {.
    •  في سورة )يونس(51 dan 91 ::} آلْآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ{,}   آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ {

Panjang membacanya enam harokat.

HUKUM LAM TA’RIF ( ALIF LAM )

1. Pengertian

Alif lam syamsiyah adalah alif lam (ال) yang dirangkai dengan salah satu huruf syamsiyah, yakni 14 huruf dari huruf Hijaiyah. Huruf syamsiyah itu adalah:

ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن       

2. Cara Membaca

  1. Suara lam tidak dibaca dan tidak diberi harakat, tetapi dileburkan (di-idgham-kan) ke dalam huruf syamsiyah yang ada di belakangnya. Contoh:

الـشَّمْسِيَةُ  tulisannya alsyamsiyah, tetapi   dibaca asysyamsiyah

Sebab, huruf lamnya tidak diberi harakat sehingga lam tidak dibaca.

  1. Karena huruf lam dileburkan, maka huruf syamsiyah yang ada di belakang huruf lam tersebut diberi harakat tasydid ( ــّـ ).

huruf syamsiyahnya syin dan diberi harakat tasydid:

      الـشَّمْسِيَةُ                                                     

  1. Pada dasarnya huruf alif yang mengikuti huruf lam tidak berharakat. Namun, jika di awal kalimat (ibtida’), huruf alif tersebut diberi harakat atas, tetapi jika di tengah kalimat, huruf alifnya tidak diberi harakat.

                   اَلرَّحْمـنِ الرَّحِيمِcontoh :

Alif lam pertama, berada di awal maka alif tersebut diberi harakat atas. Sedangkan alif lam kedua berada di tengah kalimat dan alifnya tidak diberi harakat.

3. Contoh-contoh bacaan alif lam (ال) syamsiyah

a. ال bertemu dengan huruf  ت : التَّكَاثُرُ  dibaca: at-takasur

b. ال bertemu dengan huruf  ث : الثَّاقِبُ  dibaca: ats-tsaqib

c. ال  bertemu dengan huruf  د : الدِّيْنُ  dibaca: ad-din

d. ال   bertemu dengan huruf  ذ : الذِّكْرُ   dibaca: az-zikr

e. ال bertemu dengan huruf  ر : الرَّحْمَنُ dibaca: ar-rahman

f. ال   bertemu dengan huruf  ز : الزَّيْتُوْن   dibaca: az-zaitun

g. ال   bertemu dengan huruf س : السَّمِيْعُ   dibaca: as-sami`

h. ال bertemu dengan huruf ش : الشَّمْسُ dibaca: asy-syamsu

i. ال bertemu dengan huruf ص : الصَّالِحَاتُ dibaca: ash-shalihaat

j. ال bertemu dengan huruf ض : الضَّالِّيْنُ dibaca: adh-dhaalin

k. ال bertemu dengan huruf ط : الطَّاعَةُ dibaca: ath-tha`ah

l. ال bertemu dengan huruf ظ : الظَّالِمِيْنَ dibaca: azh-zhalimin

m. ال  bertemu dengan huruf ل : الَّلْيلُ   dibaca: al-lail

n. ال  bertemu dengan huruf  ن : النَّاسُ    dibaca: an-naas

 

B. Pengertian hukum bacaan alif lam (الQamariyah

1. Pengertian

Alif lam qomariyah adalah alif lam (ال) yang dirangkai dengan salah satu huruf qamariyah, yakni 14 huruf dari huruf Hijaiyah. Huruf qomariyah itu adalah:

ا ب ج ح خ ع غ ف ك ق م و هـ ي

2. Cara Membaca

  1.   Huruf lam diberi harakat mati (sukun) sehingga suara lam jelas (izhar).

الْقَمَرِيَةُ                   dibaca alqamariyatu:

  1.   Huruf qamariyah yang terdapat sesudah huruf alif lam tidak diberi tanda tasydid.
  2.   Seperti halnya alif lam syamsiyah, jika di awal kalimat (ibtida’) huruf alifnya diberi harakat atas, tetapi jika di tengah kalimat, huruf alifnya tidak diberi harakat.

Contoh:

اَلْـحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْـعَالَمِينَ

Alif lam pertama, berada di awal maka alif tersebut diberi harakat atas. Sedangkan alif lam kedua berada di tengah kalimat dan alifnya tidak diberi harakat.

3. Contoh-contoh bacaan alif lam qamariyah

a. ال bertemu dengan huruf  ا : اْلأَحَدُ     dibaca: al-ahad

b. ال bertemu dengan huruf  ب : اْلبَصِيْرُ  dibaca: al -bashir

c. ال bertemu dengan huruf  ج : اِلجَمَالُ    dibaca: al-jamal

d. ال bertemu dengan huruf  ح : الْحَمْدُ   dibaca: al -hamdu

e. ال bertemu dengan huruf  خ : الْخَيْرُ   dibaca: al-khair

f. ال bertemu dengan huruf  ع : الْعَصْرُ   dibaca: al-`ashr

g. ال bertemu dengan huruf غ : الْغَفُوْرُ   dibaca: al-ghafur

h. ال bertemu dengan huruf ف : الْفِيْلُ    dibaca: al-fiil

i. ال bertemu dengan huruf ق : الْقَارِعَةُ    dibaca: al-qari`ah

j. ال bertemu dengan huruf ك : اْلكَوْثَرُ    dibaca: al-kautsar

k. ال bertemu dengan huruf م : الْمُؤْمِنُ   dibaca: al-mukmin

l. ال bertemu dengan huruf و : اْلوَهَّابُ    dibaca: al- wahab

m. ال bertemu dengan huruf هـ : الْهُمَزَةُ dibaca: al- hamzah

n. ال bertemu dengan huruf ي الْيَوْمُ    dibaca: al-yaum

 

  1. C.    Perbedaan alif lam (الsyamsiyah dengan alif lam (ال) qamariyah.
No AlifLam Syamsiyah

AlifLam Qamariyah

1 Lamtidak berharakat Lam berharakat sukun
2 Lam tidak dibaca Lam dibaca jelas
3

Lam dileburkan ke dalam huruf syamsiyah yang ada sesudahnya sehingga huruf syamsiyah tersebut diberi tasydid.

Karena lam berharakat sukun, maka huruf qamariyah yang ada sesudahnya tidak diberi tasydid.

MAKHORIJUL HURUF.

Makhorijul huruf secara bahasa atau etimologi adalah bentuk jama’ ( plural) dari makhroju yang berarti tempat keluar.

Adapun secara istilah yaitu tempat keluarnya huruf – huruf hujaiyyah , adapun ulama qiro’ah memaknai dengan tempat dimana keluarnya sebuah huruf, muncul yang membedakan satu huruf satu dengan yang lain.

Adapun untuk mengetahui  makhroj  sebuah  huruf  yaitu dengan cara mentasydid kan atau mensukunkan huruf kemudian memasukan hamzah washol dengan berharokat,maka apa-apa yang terputus dari huruf maka itulah makhroj huruf yang sebenarnya.

Dan makhrojul huruf terbagi menjadi dua yaitu secara umum dan secara cabang ;

Pertama secara umum,terbagi menjadi lima sbb :

  1. 1.   الجوف: هو الخلاء الداخل في الفم.
  2. 2.   الحلق: هو يبدأ مملي يلي الصدر وينتهي عند لسان المزمار.
  3. 3.   اللسان.
  4. 4.   الشفتان.
  5. 5.   الخيشوم.

Dan kelima makhraj tersebut terkumpul secara ringkas dalam Al-jauf , al – halqu , al-lisan ,  as-syafatain , dan al-khoisyum .

Kedua makhrojul far’i yang terperinci berasal dari makhroj yang secara umum,dan setiap makhroj mencakup satu makhroj,dan para ulama’ dalam perkara makhroj terbagi menjadi tiga madzhab :

  1. Mazhab Imam Kholil bin Ahmad Al-farohidy , menyebut kan ia mempunyai tujuh belas makhroj,dan ini juga perkataan Imam Muhammad bin al- hajury.
  2. Madzhab Imam Sibawaih menyebutkan ia mempunyai enam belas makhroj.
  3. Madzhab Al-Farro’ dan ulama yang sependapat dengan nya dari ulama nahwu,di mana mereka menyebutkan bahwa makhroj terbagi menjadi empat belas makhroj, dan ini yang terpilih sebagai pendapat yang masyhur.

Adapun makhroj secara umum sebagai berikut :

 

  1. Al-jauf    (  الجوف) adalah huruf rongga mulut,yaitu huruf-huruf madd ( alif jatuh setelah fathah, waw setelah dhommah, dan ya setelah kasroh ).
  2. Al-halqu   ( الحلق ) adalah huruf tenggorokan,dan ia terbagi menjadi tiga yaitu :
  3. أقصى الحلقyaitu huruf yang keluar dari pangkal tenggorokan, yaitu  ( ء) الهمز  dan الهاء  (ها)
  4. وسط الحلق  : huruf yang keluar dari tengah tenggorokan yaitu huruf  الحاء (ح) dan العين (ع)
  5.  أدنى الحلق   : yaitu huruf yang keluar dari  tenggorokan paling atas , huruf    الغين ( غ )   dan  الخاء ( خ )

3. Al-lisan  (  اللسان ) adalah huruf-huruf yang keluar dari lidah, dan ia mempunyai sepuluh bagian dengan delapan belas huruf yaitu :

- pangkal lidah paling bawah keluar huruf Qof  (  ق

- pangkal lidah di atas huruf Qof,keluar huruf Ka ك )   (

- dari pertengahan lidah keluar huru      ج   ش    ي selain     huruf madd.

- dari dua sisi lidah bagian sisi tengah hingga mendekati ujung,  keluar huruf    ض  .

- dari ujung lidah hingga sisi lidah terdekat, keluar huruf   ل .

- dari ujung lidah di bawah makhroj lam, keluar huruf    ن  .

- dari kepala lidah, keluar huruf   ر  .

- dari ujung lidah serta pangkal gigi seri bagian atas,keluar   huruf     ط , د , س .

- dari ujung lidah serta ruang gigi seri atas dan gigi seri bawah, keluar huruf   س , ز , ص      .

- dari ujung lidah serta ujung gigi seri atas, keluar huruf  ظ , ذ    ث   .

4. As-safatain (  الشفتان) adalah huruf yang keluar dari dua bibir, dan ia terbagi menjadi dua,

- dua bibir yang terbuka, yaitu huruf    و    dan mulut yang tertutup yaitu     ب , م  .

- bibir bagian bawah serta ujung gigi seri bagian bawah, yaitu huruf   ف  .

5. Al- Khoisyum   ( الخيشوم ) adalah huruf yang keluar dari rongga belakang hidung,dan ia mempunyai satu makhroj saja yaitu ghunnah .

Pendapat ini adalah pendapat yang di pakai dan di pilih oleh jumhur ( mayoritas ) ulama, diantaranya : Imam Muhammad ibnu Al-jazary, Makki bin Abi Tholib, Imam Al-Kholid bin Ahmad ( guru Imam Sibawaih) dan lain-lain

 

               SIFAT-SIFAT HURUF

       Sifat huruf adalah tata cara tertentu ketika mengucapkan sebuah huruf hijaiyyah,untuk memenuhi hak nya sebagai huruf,adapun fungsi mempelajari sifat-sifat huruf adalah, pertama untuk membedakan huruf-huruf yang sama dalam makhroj.

Kedua memperbagus pengucapan huruf-huruf yang berbeda dalam makhrojnya.

Ketiga untuk mengetahui sifat yang lemah dan sifat yang kuat sehingga dapat diketahui mana yang di idghomkan dan mana yang tidak boleh .

Menurut Imam Ibnu Al-Jazary jumlah sifat-sifat huruf Hijaiyyah ada 17 , yaitu 10 sifat yang mempunyai lawan dan 7 sifat yang tidak mempunyai lawan,

  1. Sifat-sifat yang mempunyai lawan , sebagai berikut :

            الهمس

 lawannya

   الجهر

              الشدة.

وضده

الرخاوة 

        الاستعلاء.

وضده

الاستفال.

            الإطباق.

وضده

الانفتاح.

           الإذلاق.

وضده

الإصمات.

  1. Hams ( nafas berjalan keluar ) huruf-hurufnya terkumpul pada kalimat    فَحَثَّهُ شَخْصٌ سَكَتَ  lawannya adalah jahr    ( laju nafas tertahan ).huruf-hurufnya terkumpul pada kalimat :

عظم وزن قارئ غض جد طلب

  1. Isti’laa’ ( terangkatnya  lidah  kelangit- langit mulut ) ada pun huruf – hurufnya terkumpul pada kalimat                      خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ  lawannya adalah Istifal ( turunnya lidah kedasar mulut ) adapun huruf-hurufnya selain dari huruf-huruf Isti’la .
  2. Ithbaaq ( menutupnya lidah kelangit-langit mulut ) huruf – hurufnya adalah الصاد والضاد والطاء والظاء  lawannya adalah Infitaah ( terbukanya ruang antara lidah dan langit-langit mulut ) adapun huruf-huruf nya adalah selain dari huruf-huruf Ithbaq .
  3. Idzlaaq ( keluar dari ujung lidah dengan cepat ) ada pun huruf-huruf nya terkumpul dalam kalimat فِرَّ مِنْ لُبٍّ lawannya adalah Ishmat ( keluar dari ujung lidah tidak cepat ) huruf-huruf nya selain dari huruf-huruf Idzlaq
  4. Syiddah ( laju suara tertahan )  huruf-hurufnya terkumpul pada kalimat  أجِدْ قَطٍّ بَكَتْ  adapun lawannya adalah  Rokhowah ( suara melaju )  dan huruf-hurufnya  selain  dari  Syiddah  dan  Rokhowah,  adapun sifat antara Syiddah dan Rokhowah yaitu Tawasshut huruf-hurufnya terkumpul pada kalimat  “لِنْ عُمَرُ”.   .
  1. Sifat-sifat yang tidak mempunyai lawan.

1.الصَّفِيْرُ.    

2.القَلْقَلَةُ.            

3. اللِّيْنُ.

4.الانْحِرَافُ

5.التَكْرَارُ.

6. التَفَشِّي.

7.الاسْتِطَالَةُ.

. تَوَسُّط. 8

 

غُـنَّـة  .9

 

1.Qolqolah   (mental, pantulan)

2.Shofir ( mendesis )

3.Takrir ( bergetar ) dan getarannya di minimalisir.

4.Tafasysyi ( tersebarnya udara di rongga mulut )

5.Istithoolah ( memanjang sepanjang sisi lidah )

6.Inhiroof ( cendrung keujung lidah )

7.Liin ( keluar dengan mudah )

8.Tawashut ( pertengahan )

9. Ghunnah ( dengung )

URAIAN 9 SIFAT-SIFAT HURUF

Adapun rincian sifat-sifat yang tidak mempunyai lawan , adalah sebagai berikut :

1. تَوَسُّطٌ (TAWASSUTH) = Pertengahan antara Syiddah dan Rakhawah. Maksudnya ialah membunyikan huruf  dengan tekanan sedang antara kuat dan lemah.

2. لَيِّنٌ (LAYYIN) = Lunak. Maksudnya ialah membunyikan huruf dengan lunak, lemah dan lembut, ketika huruf itu mati dan jatuh sesudah harakat fathah. Hurufnya ada 2 yaitu :  َوْ   َ يْ =  خَوْفٌ - سَوْفَ  كَيْفَ - اِلَيْكَ -

3. اِنْحِرَافٌ (INHIRAF) = Condong. Maksudnya ialah membunyikan huruf condong ke ujung lidah dengan sedikit melenturkan (melengkungkan) lidah. Hurufnya ada 2 yaitu : ل   ر

4. تَكْرِيْرٌ (TAKRIR) = Mengulang-ulang. Maksudnya ialah membunyikan huruf dengan lidah bergetar tidak lebih dari dua getaran. Apabila getarannya sampai tiga kali, maka tercelalah. Dan apabila sampai empat getaran, berarti huruf itu telah menjadi dua huruf. Hurufnya ada satu yaitu :  ر

5.صَفِيْرٌ  (SHAFIR) = Siul atau seruit. Maksudnya ialah membunyikan huruf dengan berdesir bagaikan suara seruling. Hurufnya ada tiga, yaitu : ص   ز  س

6. تَفَشِّيْ (TAFASY-SYI) = Menyebar. Maksudnya ialah membunyikan huruf dengan angin tersebar di mulut. Hurufnya ada satu, yaitu : ش

7.قَلْقَلَةٌ  (QALQALAH) = Goncang. Maksudnya ialah membunyikan hurufdengan concangan pada makhrajnya, sehingga terdengar pantulan suara yang kuat pada sat mati atau dimataikan karena berhenti (waqaf) Hurufnya ada lima, yaitu : قُطْبُ جَدٍ

Qalqalah terbagi menjadi dua, yaitu :

a. قَلْقَلَةٌ صُغْرَى (QALQALAH SHUGHRA), yaitu pantulan suara huruf qalqalah agak lebih kecil, karena huruf qalqalahnya itu mati asli berada di tengah-tengah kata atau kalimat. Contoh : يَقْبَلُ – يَطْبَعُ – يَدْخَلُ – يَجْعَلُ – يَبْتَغُ

b. قَلْقَلَةٌ كُبْرَى (QALQALAH KUBRA), yaitu pantulan suara huruf qalqalah agak lebih besar, karena huruf qalqalahnya itu sebenarnya hidup, tapi dimatikan ketika waqaf (menghentikan bacaan).Contoh :

قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ – اَللهُ الصَّمَدُ- لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ- وَلَمْ يَكُنْ لَّه كُفُوًااَحَدٌ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ- مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ- وَمِنْ شَرِّالنَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ-وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَد

8.  اِسْتِطَالَةٌ (ISTITHALAH) = Memanjang. Maksudnya ialah membunyikan huruf dengan memanjang di salah satu tepi pangkal lidah sampai ke depan. Hurufnya ada satu, yaitu :   ض

9.  غُنَّةٌ (GHUNNAH) = Berdengung. Maksudnya ialah membunyikan huruf dengan suara berdengung yang keluar dari pangkal hidung.Hurufnya ada dua, yaitu : م    ن

 

HUKUM LAM PADA LAFADZ      ( الله )

  1. Di baca menebal huruf Lam pada lafzhul Jalalah   ( الله ) apabila sebelum nya di fathahkan atau di dhommahkan, contoh :       قـَالَ اللهُ   ,  عَبْدُ اللهِ    Atau di sukun kan setelah dhommah,contoh : قالـُوا اللـَّهُمَّ   atau sukun setelah fathah contoh :  وَ اِلىَ اللهِ

Dan sebab di baca menebal atau tafkhim adalah dalam rangka untuk tanzhim atau pengagungan kepada Alloh ta’ala,dan apabila di tipiskan atau tarqiq,maka hilanglah bentuk pengagungan tersebut.

2. Dan  terkadang  lafadz  jalalah di baca tipis atau tarqiq, apabila di dahului dengan kasroh contoh:                                  ( بـِالله ، قـُلِ اللـَّهُمَّ ، مِـنْ دِيْـنِ اللهِ )

atau di dahului sukun setelah kasroh,contoh:                  (   ( وَيَنـْجِيْ الله

atau di dahului tanwin, contoh ;    ( قـَوْماً الله )  

adapun sebab di baca tipis adalah karena beratnya penyebutan, yaitu beratnya lidah untuk di naikkan kelangit-langit setelah turun dan rendahnya lidah dalam keadaan terbeban.

Adapun Lam Fi’il , maka wajib untuk di Izhharkan atau di nampak kan untuk seluruh huruf selain dari Lam dan Ro’ , contoh :  جَعَلْنَا ،  أرْسَلْنَا ،  قُلْنَا

Dan wajib di idghomkan apabila huruf Lam sukun bertemu dengan huruf Lam,atau Lam sukun bertemu dengan Ro’ , contoh :

( قـُلْ لا أمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرّاً وَلا نَفْعاً، وَقـُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً ).

Perhatian : hukum-hukum lam Fi’il,atau lam huruf dan lam isim semuanya di baca Izhhar,sama saja apakah ia fi’il madhi ,mudhore’ atau amr.

       HUKUM  IDGHOM  MUTAMAATSILAIN,  MUTAJAANISAIN,DAN MUTAQOORIBAIN

 

Yaitu apabila berkumpul dua huruf,yang mana huruf pertama di sukun dan huruf kedua berharokat,maka cara membacanya di idghomkan ( di masukan ) yang pertama kepada yang kedua,sehingga kedua huruf tersebut menjadi satu huruf dari jenis yang kedua, hal tersebut di sebabkan salah satu dari tiga sebab , berikut :

1.Tamaatsil : yaitu dua huruf tersebut sama sifat dan makhrojnya,contoh:
قَدْ دَخَلُوْا اضْرِبْ بِعَصَاكَ    ,  بَلْ لا يَخَافُوْنَ

dan apabila ada huruf HA yang sukun kemudian setelah nya datang HA yang berharokat,seprti contoh :                   مَالِيَهْ هَلَك                                   َ                                                                       maka cara membacanya boleh untuk di idghomkan atau di izhharkan,dan dengan cara izhhar lebih rojih dan lebih baik,adapun tata cara izhharnya yaitu dengan cara berhenti pada huruf ha yang sukun  مَالِيَهْ dengan lembut tanpa memutus nafas dengan tertekan, lalu melanjutkan kepada ha setelahnya.

2.Tajaanis : yaitu dua huruf yang sama jenisnya,tapi berbeda sifatnya,dan yang demikian itu terdapat pada lima tempat dengan tiga makhroj,yaitu :

A .Makhroj huruf  ط , ت , د    maka wajib untuk di idghom kan pada dua tempat yaitu , pertama : huruf    د ketika bertemu dengan   ت contoh :

( قَدْ تَبَيَّنَ ، مَهَدْتُ ، لَقَدْ تَقْطَعُ ، عَبَدْتُ ) 

     Kedua huruf    تbertemu dengan   دdan ط ,contoh ;

( أَثْقَلَتْ دَعوا،أجِيْبَتْ دَعْوَتُكُمَا،هَمَّتْ طَائِفَة )

B. Makhroj huruf      ذ  ,   ظdan  ث  di wajibkan pada nya Idghom, pada dua tempat :

 1 . Huruf    ذ     bertemu dengan huruf  ,   ظ contoh  :    إذا ظلمتم  .

  1. Huruf  ث   dan    ذ   contoh :      يَلْهَثْ ذَلِكَ

C. Makhroj huruf       م dan ب  hanya terdapat satu tempat dalam Al-Qur’an di mana huruf  ba ‘ bertemu dengan huruf mim . contoh :     اِرْكَبْ مَعَنَا

3. Taqoorib , yaitu dekatnya dua huruf dari segi makhroj dan sifat nya, dan yang demikian terdapat dua makhroj,yaitu :

a. makhroj  ل  dan ر   , contoh :

b. Makhroj    ق  dan   ك  , contoh :

dan yang di maksud makna saling berdekatan dalam sifat adalah berserikatnya dua huruf pada kebanyakan sifat.

         

         TAFKHIM DAN TARQIQ

 

  1. 1.      Tafkhim isti’la :

artinya tebal isti’la maksudnya huruf isti’la yang dibaca tebal
  a. adna darojat : artinya ringan derajat maksudnya huruf isti’la dibaca tafkhim dengan kadar yang ringan.
– kaidah : bila ada huruf isti’la berharokat kasroh/sukun sebelumnya ada huruf berharokat kasroh  contoh :           سِخْرِيَّا طِيْنُ
b. aqwa darojat : artinya kuat derajat maksudnya huruf isti’la dibaca tafkhim dengan kadar yang kuat
– kaidah : bila ada huruf isti’la berharokat fathah/dhomah atau sukun sebelumnya berharokat fathah/dhomah    – contoh :     طَيِّبَةُ

 

  1. 2.       Tafkhim  Ro’ :

artinya tebal ro’ maksudnya huruf ro’ yang di baca tebal
– kaidah :
a. bila ada ro’ berharokat fathah/dhomah
– contoh : بِالرُّسُلِ – رَبَّنَا
b. bila ada ro’ sukun sebelumnya ada huruf berha rokat fathah/dhomah
– contoh : فُرْقًا – اَرْسَلَ
c. bila ada ro’ berada diakhir ayat/diwaqof kan sebelumnya huruf berharokat fathah /dhomah
– contoh : التَّكَاثُرُ ٠ – اْلكَوْثَرُ ٠
d. bila ada ro’ berada diakhir ayat/diwaqof kan sebelumnya huruf alif/waw
– contoh : اْلغَفَّارُ ٠ – شَكُوْرُ ٠
e. bila ada ro’ berada diakhir ayat/diwaqof kan sebelumnya huruf berharokat sukun dan didahului huruf ber-
harokat fathah/dhomah
– contoh : بِالصَّبْرِ ٠ – وَاْلفَجْرِ ٠

  1. 3.      Tarqiq ro’ :

artinya tipis ro’ maksudnya huruf ro’ yang dibaca tipis
– kaidah :
a. bila ada ro’ berharokat kasroh
– contoh : تَجْرِيْ – فِي اْلبَحْرِ
b. bila ada ro’ sukun sebelumnya huruf berharokat kasroh
– contoh : فِرْعَوْنُ – مِرْيَةُ
c. bila ada huruf ro’ diakhir ayat/diwaqofkan sebelumnya huruf berharokat kasroh
– contoh : المُدَّثِرُ ٠ – المَقَابِرُ ٠
d. bila ada ro’ berada diakhir ayat/diwaqof kan sebelumnya huruf ya
– contoh : لَخَبِيْرُ ٠ – بَصِيْرُ ٠
e. bila ada ro’ berada diakhir ayat/diwaqof kan sebelumnya huruf berharokat sukun dan didahului huruf berharokat kasroh

  1. 4.      Jawazul wajhain :

artinya boleh 2 wajah maksud nya huruf ro’ boleh dibaca tafkhim/tarqiq
– kaidah :
a. bila ada ro’ sukun sebelumnya huruf berharokat kasroh dan setelahnya huruf isti’la
– contoh :     فِـرْقَـةُ
b. bila ada huruf ro’ sukun diakhir ayat/diwaqofkan sebelumnya huruf isti’la sukun didahului huruf berharokat kasroh
– contoh : القِطْرِ ٠ – المِصْرِ ٠ 

 

  1. 5.      Tafkhim lam (lam jalalah) :

artinya tebal lam maksudnya lafadz  ALLAH   yang dibaca tebal
– kaidah :
a. bila ada lafadz ALLAH jadi mubtada/awal kata
– contoh : اللَّهُ نُـوْرُ السَّمَوَاتِ
b. bila ada lafadz ALLAH sebelumnya huruf berharokat fathah/dhomah
– contoh : رَسُوْلُ اللَّهِ – وَمَا اللَّهِ
6. Tarqiq lam (lam jalalah) :
artinya tipis lam maksudnya lafadz ALLAH yang dibaca tipis
– kaidah :
a. bila ada lafadz ALLAH sebelumnya huruf berharokat kasroh
– contoh :  يَرْفَعِ اللَّهِ – بِاللَّهِ
               WAQAF

  1. 1.      PEMBAGIAN WAQAF

a. Ikhtibari :
artinya diuji maksudnya para qori’ boleh berhenti karna ditanya penguji
b. Intidzori :
artinya menunggu maksudnya berhenti pada kalimat yang perlu untuk menghubungkan kalimat pada lain bacaan
c. Idhthirari :
artinya terpaksa maksudnya berhenti ditengah ayat karna terpaksa baik kehabisan napas, batuk /lupa dalam hal ini para qori boleh berhenti pada kalimat manapun yang disukai dengan tak merusak arti
dan mulai baca dari kalimat dimana ia berhenti/sebelumnya.

d. Ikhtiyari :
artinya memilih maksudnya sengaja berhenti pada kalimat yang dipilih karna satu maksud

- Tamm :  artinya sempurna maksudnya berhenti pada kalimat yang sempurna susunannya dan tak berkaitan dengan kalimat setelahnya baik lafadz/arti
contoh : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ٠ ايَّاكَ
- Kafiy:    artinya cukup maksudnya berhenti pada kalimat sempurna susunannya tapi masih berkaitan dengan kalimat setelahnya secara arti
contoh : ربِّ اْلعَالَمِيْنَ ٠ اَلرَّحْمنِ
- Hasan :  artinya bagus maksudnya berhenti pada kalimat yang sempurna susunannya tapi masih berkaitan dengan kalimat setelahnya secara arti dan lafadz
contoh : صِرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ ٠ اَلصِّرَاطَ
- Qobih : artinya jelek maksudnya berhenti kalimat tidak sempurna susunannya dan berkaitan dengan kalimat setelahnya secara arti dan lafadz hingga menimbulkan kesan/arti yang kurang bagus
Contoh : بِسْمِ ٠ اللَّهِ
           2. TANDA WAQAF
a. waqof : artinya berhenti maksudnya harus/lebih baik berhenti
- ق : قِيْلَ وَقَفْ : sebagian ulama qori membolehkan berhenti
- قف : اَلْوَقْفُ اْلمُسْتَحَيُّ : anjuran untuk berhenti
- قلي : اَلْوَقْفُ اْلاُوْلَي : boleh sambung tapi berhenti lebih baik
- ط : اَلْوَقْفُ اْلمُطْلَقُ : harus berhenti tapi boleh sambung
- titik 3 : اَلْوَقْفُ اْلمُعَانَقَةُ : berhenti dengan memilih salah satu dari dua titik
- م : اَلْوَقْفُ اْلاَّزِمُ : harus berhenti dilarang sambung
b. jaiz : artinya boleh maksudnya boleh berhenti dan boleh sambung
- ج : اَلْوَقْفُ اْلجَائِزُ : boleh berhenti boleh sambung
- س : اَلْوَقْفُ اْلجِبْرِيْلُ : malaikat jibril berhenti saat menyampaikan wahyu dan tanda ini dikenal disebagian mushaf saja

c. wasol : artinya sambung maksudnya harus/lebih baik sambung
- ز : اَلْوَقْفُ اْلمُجَاوَزُ :   harus sambung tapi boleh berhenti
- ص : اَلْوَقْفُ اْلمُرَخَصْ :  anjuran untuk sambung
- صلي : اَلْوَقْفُ اْلاُوْلَي :  boleh berhenti tapi  disambung lebih baik
- لا : اَلْوَقْفُ اْلمَمْنُوْعُ :  harus sambung dilarang berhenti

Rincian

Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf yaitu:

ﺗﺂﻡّ (taamm) – waqaf sempurna – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak mempengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya

ﻛﺎﻒ (kaaf) – waqaf memadai – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya

ﺣﺴﻦ (Hasan) – waqaf baik – yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa mempengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya

ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) – waqaf buruk – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

 

Tanda-tanda waqaf lainnya :

1. Tanda mim ( مـ ) disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya;

2. tanda tho ( ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.

3.tanda jim ( ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan juga untuk tidak berhenti.

4. tanda zha ( ) bermaksud lebih baik tidak berhenti

5. tanda sad ( ) disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada waqaf sad

6. tanda sad-lam-ya’ ( ﺻﻠ ) merupakan singkatan dari “Al-washl Awlaa” yang bermakna “wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik”, maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik;

7. tanda qaf ( ) merupakan singkatan dari “Qiila alayhil waqf” yang bermakna “telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”, maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan

8. tanda sad-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan dari “Qad yuushalu” yang bermakna “kadang kala boleh diwasalkan”, maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan

9. tanda Qif ( ﻗﻴﻒ ) bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti

10. tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dengan kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan

11. tanda Waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) bermaksud sama seperti waqaf saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas

12. tanda Laa ( ) bermaksud “Jangan berhenti!”. Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung maupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak

13. tanda kaf ( ) merupakan singkatan dari “Kadzaalik” yang bermakna “serupa”. Dengan kata lain, makna dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul

14. tanda bertitik tiga ( … …) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta’anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.

Sebenarnya masih banyak hukum bacaan dan tanda bacaan dalam Al-Quran bila dipelajari memerlukan waktu pemahaman yang cukup lama agar fasih dan benar dalam membaca, melafazkan dan pengucapan harakat (panjang-pendeknya suatu bacaan), tajwid lainnya yang harus dipelajari dan dipahami. Lebih baik lagi apabila mempelajari kitab Iqro (kitab kecil ).

بَابُ اْلاِصْتِلاَحَات            

 
اِمَالَةُ ٤ – اِشْمَامُ ح – سَجْدَةُ – ١
نَقَلُ ٥ – نُوْنُ وِقَايَةُ ف – غَرِيْبُ – ٢
تَشْهِيْلُ ط – سَكْتَهُ فِي اْلقُرْآنِ ض – غَيْرُ مَدُّ – ٣
3.2. GHORIB  DALAM AL-QURAN

 

Adalah bacaan yang asing,artinya tidak umum di ucapkan dalam membaca Al-Qur’an,para ulama Qiroah membaginya dalam beberapa hal sebagai berikut :

1. Imalah :
Artinya miring maksudnya membaca fathah miring ke kasroh/ A menjadi E
– contoh : 11 : 41                        بِسْمِ اللَّهِ مجْرهَا وَ مُرْسَهَا
2. Naqol :                                                                                                                    artinya memindahkan maksudnya memindahkan harokat A pada huruf mati sebelumnya
– contoh :                              بِئْسَ لِسْمُ             بِئْسَاْلاِسْمُ
3. Tasyhil :                                                                                                                        artinya meringankan maksudnya membaca A secara ringan/tidak jelas
– kaidah : bila ada A istifham bertemu dengan A qotho’
– contoh :  41                    ءَاَعْجَمِيُّ            ءَاعْجَمِيُّ
4. Isymam :                                                                                                                      artinya manyun maksudnya membaca kata dalam ayat dengan manyun
– kaidah : menampakkan dhomah yang terbuang dengan bibir
– contoh : 12 : 11                                   لاَ تَأْ مَنُنَا لاَ تَأْ مَنَّا
5. Nun wiqoyah :                                                                                                      artinya nun waspada maksudnya menambahkan nun agar tanwin tetap terjaga
– kaidah :
a. bila ada tanwin bertemu dengan lam ta’rif
– contoh :                                           فِتْنَةَ نِ الَّتِي فِتْنَةً الَّتِي
b. bila ada tanwin bertemu dengan huruf sukun
– contoh :                                   خَيْرٌ اهْبِطُوْا خَيْرُ نِ اهْبِطُوْا

6. Saktah :
Artinya  “mencegah “dan  “menuntut “ maksudnya mencegah terjadinya kekacauan arti / salah pengertian dan menuntut untuk berhenti, dan biasa di tandai dengan huruf  س  di atas sebuah kalimat.

– kaidah (hukumnya) :
a. Al-Kahfi : 1-2
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا  
قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الـصَّـالِـحَـاتِ أَنَّ لَـهُـمْ أَجْـرًا حَـسَنًـا
Saat membaca tanpa saktah terkesan bertolak belakang ”ALLAH tak menjadikan Al-Qur’an itu sebuah penyelewengan س  lurus …”
b. Yasin : 52
قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ
Saat membaca tanpa saktah terkesan pembauran perkataan orang kafir tentang kiamat س jawaban ALLAH
c. Al-Qiyamah : 27
وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ
Saat membaca tanpa saktah maka harus diidghomkan yang artinya “pembuat kuah”, padahal seharusnya
“siapa”
d. Al-Muthafifin : 14
كَـلا بَـلْ رَانَ عَـلَـى قـلُـوبِهِـمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Saat membaca tanpa saktah maka harus diidghomkan yang artinya “2 daratan” padahal seharusnya “bukan”

7. Sajdah :
artinya sujud maksudnya melakukan sujud saat membaca ayat Al-Qur’an
a. Dalil sujud tilawah
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانََ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَاُ عَلَيْنَا سُوْرَةُ فِيْهَا سَجْدَةَ فَسَجِدُ وَ نَسْجُدُ حَتَّي مَـا يَـجِـدُ اَحَـدُنَـا مَـوْضِـعَ جَـبْـهَـتِـهِ

”Dari ibnu umar ra katanya : pernah Nabi saw membaca 1 surat yang didalamnya ada sajdah maka ia sujud dan kamipun sujud hingga tiada diantara kami yang tidak meletakkan keningnya.
(HR abu daud, albaihaqi & alhakim dgn tambahan ”takbir lalu sujud)

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا قَرَاَ ابْنُ ءَادَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِيْ يَقُوْلُ يَوَيْلَهُ اُمِرَ ابْنُ ءَادَمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ اْلجَنَّةُ وَ اُمـِرْتُ بِـالسُّـجُـوْدِ فَـعَـصَـيْـتُ فَـلِـيَ النَّـارِ

”Dari Abu hurairah ra katanya : bersabda Rosululloh jika anak Adam membaca ayat sajdah lalu sujud maka menyingkirlah syetan sambil menangis seraya berkata : celaka aku, anak Adam diperintahkan sujud lalu ia sujud maka syurga baginya dan aku diperintah sujud lalu aku menolaknya maka neraka bagiku”
(HR ahmad, muslim dan ibnu majah)

b. Hukum sujud tilawah
Adalah sunnah sebab Nabi Sholallahu alaihi wa sallam  dan para sahabat pernah tak melakukannya
عَنْ زَيْدِ ابْنِ ثَابِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَرَاْتُ عَلَي النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ النَّجْمِ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيْهَا فَلَمْ يَسْجُدْ مِنَّا اَحَدٌ
”Dari zaid bin tsabit Ra katanya : aku membaca surat wan najmi dihadapan Rasululloh  (pada ayat sujud) tapi dia tidak sujud maka tiada seorangpun dari kami sujud”
(HR al-jama’ah kecuali ibnu majah)

c. Ayat ayat yang di sunahkan sujud
- 7 : 206 – 22 : 18 – 38 : 24 – 16 : 49-50 – 19 : 58
- 22 : 77 – 41 : 37 – 13 : 15 – 17 : 107 -109 – 32 : 15
- 53 : 62 – 84 : 21 – 25 : 60 – 27 : 25-26 – 96 : 19

d. bacaan saat sujud
- Orang yang sujud tilawah boleh berdo’a sekehendaknya
”Maha suci Rabb yang maha tinggi”   سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلاَعْلَي

atau membaca do’a sebagai berikut :
وَسَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ شَقَّ سَمْعُهُ وَ بَصَرَهُ بِحَوْلِهِ قُوَّتِهِ تَبَارَكَ اللَّهُ اَحْسَنَ اْلخَلِقِيْنَ
“ kepada Allah Dzat yang menciptakannya yang membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatannya, maha mulia ALLAH sebaik-baik pencipta”
(HR bukhari, muslim, an-nasa’i, abu daud dan alhakim, dishahihkan attirmidzi dan ibnu sikkin)

8. Ghorib :
artinya asing maksudnya bacaan Al-Qur’an yang asing/tak lazim dibaca
a. جَوَازُ قِرَاءَةُ الصَّادُ اَوِ السِّيْنُ : boleh dibaca ص / س   – 2 : 245   – 52 : 37     – 7 : 69   – 88 : 22
b. جَوَازُ قِرَاءَةُ بِاِحْدَ حَرَكَتَيْنِ :   boleh dibaca salah satu dari 2 harokat  – 30 : 15 > boleh dibaca salah satu harokatnya dengan syarat seragam dan umum.

9. Ghoiru mad :
artinya selain huruf mad maksudnya bacaan mad yang tidak dipanjangkan

a. setiap lafadz   اَنَا   artinya   “saya “  karena jika dipanjangkan terkesan mutsanna
- contoh : 7 : 12 / 109 : 4
b. لَكِنَّا      karna bacaan ”Na” mengandung arti اَنَا
- contoh : 18 : 38
c. ظَنُوْنَا    karna bacaan ”Na” bukan berarti kami
contoh : 33 : 10
d. اَلرَّسُوْلاَ   karna bacaan ”La” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 33 : 66
e. اَلسَّبِيْلا  karena bacaan ”La” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 33 : 67
f. سَلاَسِلاَ  karna bacaan ”La” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 76 : 4
g. قَوَارِيْرَا karna bacaan ”Ro” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 76 : 15-16
h. ثَمُوْدَا  karna bacaan ”Da” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 11 : 68
i. نَدْعُوَا  karna bacaan ”Wa” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 18 : 14
j. نَبْلَوَا  karna bacaan ”Wa” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 17 : 31
k. لِتَتْلُوَا  karna bacaan ”Wa” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 13 : 30
l. يَرْبُوَا  karna bacaan ”Wa” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 30 : 39
m. اَفَاِيْنْ مَاتَ   karna bacaan ”Wa” bila dipanjangkan akan berubah menjadi mutsanna
- contoh : 3 : 144

 

 

 

Kaidah Hamzah Washal dan Hamzah Qatha’:

 

  1. Hamzah Washal dan Hamzah Qatha’ ditulis dengan  alif pada awal kalimat,
  2. Hamzah Washal ditulis dan dibaca apabila terdapat pada awal kalimat, tetapi tidak ditulis dan dibaca apabila berada di tengah-tengah, misalnya: فَاسْتَعْمَل ، وَاعْتَصِمُ ، واسْتَفَادُ .kecuali apabila dimasuki hamzah istifhamiyah. Hamzah washal ditulis dan dibaca pada awal kalimat yang diawali dengan huruf mati agar huruf mati sesudahnya bisa dibaca, sebab apabila hamzahnya juga tidak dibaca maka kita kesulitan membacanya. Sebagian diberi tanda “ صـ “ kecil di atas alif.
  3. Hamzah Qatha’ dibaca dimana pun tempatnya baik di awal, di tengah, maupun di akhir kalimat dan ditulis di atas alif dengan tanda ” عـ “ kecil sehingga tertulis menjadi ” أ

Tempat-tempat Hamzah Washal dan Hamzah Qatha’

Hamzah Washal:

  1. Pada isim-isim: : اِسْمٌ ، اِبْنٌ ، اِبْنَةٌ ، اِبْنَمٌ ، اِمْرَؤٌ ، اِمْرَأةٌ ، اِثْنَانٌ ، اِثْنَتَانِ ، ايْمٌ  ، ايْمَنُ الله ، اسْتٌ khusus ايمن hanya untuk makna sumpah dan sebaiknya ditambah dengan alif lam.   Sedangkan ابنمberasal dari اِبْنٌ yang ditambahi م
  2. Pada fi’il Madhi, fi’il Amar, dan isim Mashdar fi’il Khumasi dan Sudasi. Fi’il Madhi seperti:اِنْتَصَرَ ، اِنْتَهَى ، اِسْتَعَانَ ، اِسْتَعْمَلَ fi’il Amar seperti: اِنْتَصِرْ ، اِنْتَه ، اِسْتَعِنْ ، استعمل dan Mashdar seperti:اِنْتِصَارٌ ، اِنْتِهَاءٌ ، اِسْتِعَانَةٌ ، اِسْتِعْمَالٌ  Kemudian fi’il Amar Tsulatsi seperti: اَرْسِمْ ، اُكْتُبْ ، اِجْلِسْ dan hamzah al ta’rif apabila bersambung dengan kata seperti:    الكِتَابُ ، الصِّدْقُ

Hamzah Qatha’:

  1. Pada semua isim (kecuali yang tertulis dengan hamzah washal seperti yang telah dijelaskan di atas) dan dhamir yang diawali dengan huruf hamzah dan إذا syartiyyah. Contoh                      :   إبْرَاهِيْمُ ، أحْمَدُ ، أناَ ، أنْتَ ، إذَا
  2. Pada Fi’il Madhi, fi’il Amar, dan Mashdar dari fi’il Ruba’ie seperti:                                                            أكْرِمْ ـ                                     أكْرَمَ ـ إكْرَامٌ      أحْسَنَ ـ أحْسِنْ ـ إحْسَانٌ                                     Fi’il Mudhari’ yang diawali dengan hamzah (mengandung dhamir ( أنا ) seperti: :أستعملُ ـ أستعينُ ـ أنعطفُ ـ أستشيرُ ـ أتعلمُ  dan semua huruf yang diawali hamzah (selain huruf “ أل ”seperti yang telah dijelaskan di bab hamzah washal) seperti: :                          إلى ـ إنما ـ إنَّ ـ أنَّ ـ إنْ ـ أن ـ إذ ما

 

 

ILMU QIROAT AL-QUR’AN

 

          Membahas salah satu cabang dalam ulumul Qur’an yakni ilmu Qira’at al-Qur’an tidak terlepas dengan apa yang disebut dengan Sab’ah Ahruf (Tujuh Huruf). Dalam satu riwayat, Rasululloh bersabda : “Sesungguhnya al-Qur’an ini telah diturunkan dalam Tujuh Huruf, maka bacalah olehmu mana yang mudah dari padanya”
Para ulama berbeda pendapat tentang makna ‘Tujuh Huruf’ pada hadits di atas. Diantara perbedaan tersebut adalah :
1.  Al-Qur’an  mengandung tujuh bahasa Arab yang memiliki satu makna.
2. Tujuh  dialek  bahasa  kabilah Arab yaitu Qurays, Hudzail, Tamim, Tasqif, Hawazin, Kinanah dan Yaman.
3. Tujuh aspek kewahyuan seperti perintah, larangan, janji, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.
4. Tujuh perubahan perbedaan yaitu ism, i’rab, tashrif, taqdim dan ta’khir, tabdil dan tafkhim.
5. Tujuh huruf diartikan bilangan yang sempurna seperti 70, 700, 7000 dan seterusnya.
6. Tujuh Qira’at yang disebut dengan Qira’ah Sab’ah.
7. Tujuh huruf diartikan tujuh bangsa selain bangsa Arab seperti Yunani, Persia dan lain-lain.

Dari perbedaan pendapat di atas, yang paling kuat adalah pendapat pertama, yaitu al-Qur’an mengandung tujuh bahasa Arab yang memiliki satu makna, seperti aqbil, ta’al, halumma, ‘ajjil, asri’ yang memiliki satu makna yaitu ‘datang kemari’. Contoh lain terdapat pada rasm utsmani dalam  surat al-Ma’idah ayat 82 : kata qissiisiina yang berarti para  rahib (pendeta), berbeda dengan bacaan ‘Ubay bin Ka’b, yaitu shiddiiqiina (yang membenarkan). Dua perbedaan ini dibenarkan oleh Nabi  Begitu juga pada  surat  al-Baqarah ayat 9, kata yukhaadi’u  tertulis dalam al-Qur’an Jordania, yakhda’uuna.
Qira’at al-Qur’an, khususnya  istilah ‘qira’ah sab’ah’ sering dimaknai dan dikorelasikan identik  dengan ‘Tujuh Huruf’, tetapi pendapat ini tidak kuat. Meski demikian, istilah ‘Tujuh Huruf’ merupakan salah satu sebab munculnya multiple reading (banyak bacaan) al-Qur’an.

Arti Penting tentang Qira’at
Secara etimologi, kata qira’ah berarti ‘bacaan’, dari kata qara’a – yaqra’u – qira’atan. Kata qira’ah berbentuk tunggal, dalam studi ilmu al-Qur’an, ia ditempatkan dalam bentuk jamak karena pembahasannya mencakup banyak jenis qira’ah (bacaan).
Secara terminologi, qira’at adalah salah satu aliran dalam pelafalan/pengucapan al-Qur’an oleh salah seorang imam Qurra’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam hal ucapan al-Qur’an serta disepakati riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf maupun dalam pengucapan lafadznya. Secara praktis, qira’at disandarkan kepada salah satu imam Qurra’ yang tujuh, sepuluh dan empat belas.
Qira’at sebagai satu sistem bacaan menjadi sangat vital bagi para pembacanya, terlebih lagi al-Qur’an merupakan sumber pokok rujukan dalam segala hal bagi pemeluk agama Islam. Teks wahyu yang diturunkan dalam bentuk lisan, diajarkan oleh Nabi  dalam cara yang sama, meski tetap ada usaha dalam bentuk penulisan teks al-Qur’an tersebut. Tetapi, dalam praktek dominan, metode ajar secara lisan tetap menjadi metode utama hingga saat ini. Itulah mengapa dalam sejarahnya, al-Qur’an banyak mengalami ragam cara baca, sesuai dengan dialek Arab yang ada.
Jika al-Qur’an merupakan inti ajaran Islam, maka ilmu Qira’at menjadi sebuah sunnah yang harus dipegang, sebagaimana Rasululloh selalu menjaga orisinalitas al-Qur’an dengan cara memanggil para sahabat penghafal al-Qur’an untuk kemudian mengulang dan mengingat kembali bacaannya. Zaid bin Thabit, orang yang begitu penting dalam pengumpulan Al-Qur’an, menyatakan bahwa “al-Qira’ah sunnatun muttaba’ah” (Seni bacaan (qira’at) Al-Qur’an merupakan sunnah yang mesti dipatuhi dengan sungguh-sungguh).
Dalam satu riwayat, Rasululloh bersabda : “Ambillah ( belajarlah )  al-Qur’an dari empat orang : Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz dan  Ubay  bin  Ka’ab
Sepeninggal Rasululloh , ragam  bacaan al-Qur’an mendapat  tempat  tersendiri    di kalangan  sahabat  sesuai  dengan dialek kabilah yang ada.

Latar Belakang dan Tujuan Qira’at 
Cara baca al-Qur’an yang beragam, disebabkan beberapa hal utama :
1. Perbedaan karena tidak ada kerangka tanda titik.
2. Perbedaan karena tidak adanya tanda diakritikal.
Ketika pemerintahan Islam meluas dimasa khalifah Utsman bin Affan, terjadi beberapa perselisihan di kalangan sahabat tentang car abaca al-Qur’an, yang mana masing-masing pihak menyatakan bacaannya adalah yang paling sahih dan benar. Kondisi ini mengancam keharmonisan umat Islam, hingga khalifah Utsman bin Affan memerintahkan para sahabat untuk menyusun dan membuat mushaf al-Qur’an. Hal ini dikenal dengan Mushaf Utsmani, yang sampai saat ini mushaf ini kita temukan, baca dan amalkan. Perlu kita ingat bahwa saat itu muncul beberapa mushaf yang berasal dari sahabat, seperti Mushaf Ali bin Abi Thalib, Mushaf Ubay bin Ka’b, Mushaf Abdullah bin Mas’ud, Mushaf Ibnu Abbas, Mushaf Zaid bin Tsabit, Mushaf Abu Musa al-‘Asy’ari dan mushaf beberapa sahabat lain yang sangat mungkin tidak kita kenal.
Qira’ah, disebutkan oleh para ahli sejarah, menjadi sebuah disiplin ilmu bermula ketika Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (w. 224 H) menulis sebuah buku Al-Qira’at, yang termuat di dalamnya qira’at dari 25 orang rawi. Di masa inilah mulai timbul kebohongan dan usaha-usaha penggantian kata atau kalimat dalam al-Qur’an, sehingga para ulama qurra’ memulai penyusunan qira’at al-Qur’an menuju kepada disiplin ilmu.
Meski sebelumnya telah ada beberapa ulama qira’ah yang terbagi kedalam beberapa kelompok yaitu :
1. Kelompok sahabat : Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari.
2. Kelompok Tabi’in :
a. Madinah : Ibnu Musayyib, Urwah, Salim, dan Umar bin Abdul Aziz
b. Mekah : Ubaid bin Umair, Atho’ bin Abi Robah, Thowus, Mujahid,
: Ikrimah
c. Kufah : ilqimah, al-aswad, masruq, ubaidah, dll
d. Bashroh : abu aliyah, abu roja’, qotadah, ibnu siirin
e. Syam : al-mughiroh, shohib utsman, dll
3. Kelompok Ulama Qurra’ yang hidup pada pertengahan abad dua hijriyah, seperti Ibnu Katsir, Abu Ja’fah, Nafi bin Nua’im, dll.
4. Kelompok yang meriwayatkan qira’ah dari ulama kelompok ketiga, seperti Ibnu Iyasy, Hafsh dan Khalaf.
5. Kelompok pengkaji dan penyusun ilmu qira’ah, yaitu Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, Ahmad bin Jubair al-Kufi, Ismail bin Ishak al-Maliki, Abu Ja’far bin Jarir at-Tabari, Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Dajuni dan Abu Bakar bin Mujahid.
Abu Bakar bin Mujahid, terlahir di Baghdad tahun 245 H, memberikan penjelasan yang cukup rinci tentang ilmu qira’ah, sebagai berikut :
Pertama, macam-macam Qira’at dari segi kuantitas atau jumlahnya. Adapun sebutan qira`at dari segi jumlah qira’at ada bernacam-macam. Ada yang bernama qira`at tujuh, qira`at delapan, qira`at sepuluh, qira`at sebelas, qira`at tiga belas, dan qira`at empat belas. Tetapi dari sekian macam jumlah qira`at yang dibukukan, hanya tiga macam qira’at yang terkenal yaitu:
1. Qira`at al-Sab’ah: ialah qira`at yang dinisbatkan kepada para imam qurra’ yang tujuh yang masyhur.
No. Tempat Imam Qurra’
1 2 3
1 Madinah Nafi’ (169/785)
2 Mekah Ibn Katsir (120/737)
3 Damaskus Ibn ‘Amir (118/736)
4 Basrah Abu ‘Amru (148/770)
5 Kufah ‘Asim (127/744)
6 Kufah Hamza (156/772)
7 Kufah Al-Kisa’i (189/804)
2. Qira`at ‘asyroh: ialah qira`at sab’ah diatas ditambah dengan tiga qira`at lagi.
No. Tempat Imam Qurra’
1 2 3
8 Madinah Abu Ja’far (130/747)
9 Basrah Ya’qub (205/820)
10 Kufah Khalaf al-Asyir (229/843)
3. Qira`at arba’ah asyrah: ialah qira`at ‘asyrah yang lalu ditambah dengan empat qira’ah lagi.
No. Tempat Imam Qurra’
1 2 3
11 Basrah Hasan al Basri (110/728)
12 Mekah Ibn Muhaisin (123/740)
13 Basrah Fahya al-Yazidi (202/817)
14 Kufah al-A’masy (148/765)

Kedua, dari segi kualitas, qira`at berdasarkan kualitas dapat dikelompokkan dalam lima bagian:
1. Qira`at Mutawatir, yaitu qira`at yang diriwayatkan oleh orang banyak dari orang banyak yang tidak mungkin terjadi kesepakatan di antara mereka untuk berbohong.
2. Qira`at Masyhur, yakni qira’at yang memilki sanad sahih, tetapi tidak sampai kepada kualitas mutawatir. Qira`at ini sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan tulisan
3. Qira`at Ahad, yakni yang memiliki sanad sahih, tetapi menyalahi tulisan Mushaf ‘Utsmani dan kaidah bahasa Arab, tidak memilki kemasyhuran, dan tidak dibaca. (Qira’at Aisyah dan Hafsah, Ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibn Abbas)
4. Qira’at Syadz (menyimpang), yakni qira’at yang sanadnya tidak sahih.
5. Qira’at Maudhu’(palsu), yaitu qira’at yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seorang tanpadasar. Seperti qira’at yang disusun oleh Abu Al-Fadhl Muhammad bin Ja’far dan mensbtkannya kepada Imam Abu Hanifah.
6. Qira’at Syabih bi al-mudroj, yaitu qira’at yang mirip dengan mudroj dari macam-macam hadis. Dia adalah qira’at yang didalamnya ditambah kalimat sebagai tafsir dari ayat tersebut.

Tolak ukur yang dijadikan pegangan para ulama’ dalam menetapkan qira’at yang sahih adalah sebagai berikut :
a. Bersesuaian dengan kaidah bahasa Arab, baik yang fasih atau paling fasih. Sebab, qora`at adalah sunnah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi rujukan dengan berdasarkan pada isnad, bukan pada rasio.
b. Bersesuai dengan salah satu kaidah penulisan Mushaf ‘Ustmani walaupun hanya kemungkinan (ihtimal) atau mendekati.
c. Memiliki sanad yang sahih atau jalan periwayatannya benar, sebab qira`at merupakan sunnah yang diikuti yang didasarkan pada penukilan dan kesahihan riwayat.

Faedah Keragaman Qira’at Al-Qur’an
Dalam keragaman cara baca al-Qur’an, dapat diambil beberapa manfaat yang berguna sebagai tanda keotentikan al-Qur’an :
1. Bukti yang jelas tentang keterjagaan Al-Quran dari perubahan dan penyimpangan, meskipun mempunyai banyak qiroat tetapi tetap terpelihara.
2. Keringanan bagi umat serta kemudahan dalam membacanya, khususnya mempermudah suku-suku yang berbed logat/dialek di Arab.
3. Membuktikan kemukjizatan Al-Quran, karena dalam qiroat yang berbeda ternyata bisa memunculkan istinbat jenis hukum yang berbeda pula.
Contoh dalam masalah ini adalah lafadhz : ” wa arjulakum” dalam Al-Maidah ayat 6, yang juga bisa dibaca dalam qiroah lain dengan “wa arjulikum “. Maka yang pertama menunjukkan hukum mencuci kedua kaki dalam wudhu. Sementara yang kedua menunjukkan hukum mengusap ( al-mash) kedua kaki dalam khuf atau sejenis sepatu.
4. Qiroat yang satu bisa ikut menjelaskan / menafsirkan qiroat lain yang masih belum jelas maknanya.
Contoh masalah ini : dalam surat Jumat ayat 9, lafal ” Fas’au “, asli katanya berarti berjalanlah dengan cepat, tetapi ini kemudian diterangkan dengan qiroat lain : ” famdhou” yang berarti pergilah , bukan larilah.

 Pengaruh Qira’at Terhadap Istinbat Hukum
Dalam hal istinbat hukum, qiraat dapat membantu menetapkan hukum secara lebih jeli dan cermat. Perbedaan qiraat al-Qur’an yang berkaitan dengan substansi lafaz atau kalimat, adakalanya mempengaruhi makna dari lafaz tersebut adakalanya tidak. Dengan demikian, maka perbedaan qiraat al-Qur’an adakalanya berpengaruh terhadap istimbat hukum, dan adakalanya tidak.
1. Perbedaan qira’at yang berpengaruh terhadap istinbat Hukum
Qira’at shahihah (Mutawatir dan Masyhur) bisa dijadikan sebagai tafsir dan penjelas serta dasar penetapan hukum, misalnya qira’at () membantu penafsiran qira’at (لَامَسْتُمْ) dalam menetapkan hal-hal yang membatalkan wudu seperti dalam QS. An-Nisa’ (4): 43 :
…. وَإِنْ كُنتُـمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْـسَحُوا بِوُجُـوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Artinya :
“….. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci): sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.

Ada perbedaan cara membaca pada lafaz (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ). Ibn Katsir, Nafi’, ‘Ashim, Abu ‘Amer dan Ibn ‘Amir, membaca (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ), sedangkan Ham-zah dan al-Kisa’i, membaca (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ).

Para ulama berbeda pendapat tentang makna dari qira>’at (لَامَسْتُمْ), ada tiga versi pendapat ulama mengenai makna (َامَسْتُمْ), yaitu: bersetubuh, bersentuh, dan bersentuh serta bersetubuh.

Para ulama juga berbeda pendapat tentang maksud dari (َامَسْتُمْ). Ibn Abbas, al-Hasan, Mujahid, Qatadah dan Abu Hanifah berpendapat bahwa maksudya adalah: bersetubuh. Sementara itu, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas al-Nakha’i dan Imam Syafi’i berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah: bersentuh kulit baik dalam bentuk persetubuhan atau dalam bentuk lainnya.

Ada sebuah pendapat yang menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ) adalah sekedar menyentuh perempuan. Sedangkan maksud dari (َامَسْتُمْ) adalah berjima’ dengan perempuan. Sementara ada hadis shahih yang menceritakan bahwa Nabi  pernah mencium istrinya sebelum berangkat sholat tanpa berwudhu lagi. Jadi yang dimaksud dengan kata (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ) di sini adalah berjima’, bukan sekedar menyentuh perempuan. Dari contoh di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa yang membatalkan wudhu adalah berjima’, bukan sekedar bersentuhan dengan perempuan.

Pendapat lain menyatakan bahwa pendapat yang kuat adalah yang berarti bersentuhan kulit. Pendapat ini dikuatkan oleh al-Razi yang menyatakan bahwa kata al-lums (اللمس) dalam qira’at (لمستم), makna hakikinya adalah menyentuh dengan tangan. Ia menegaskan bahwa bahwa pada dasarnya suatu lafaz harus diartikan dengan pengertian hakikinya. Sementara itu, kata al-mulamasat (الملامسات) dalam qira’at (َامَسْتُمْ), makna hakikinya adalah saling menyentuh, dan bukan berarti bersetubuh.

2. Perbedaan Qiraat Tidak Berpengaruh terhadap Istinbat Hukum
Berikut ini adalah contoh dari adanya perbedaan qira>’at tetapi tidak berpengaruh terhadap istimbath hukum, yaitu pada Q.S. al-Ahzab (33): 49.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمْ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah, dan lepaskanlah mereka itu dengan cara sebaik-baiknya.”

Ayat di atas menjelaskan, bahwa seorang istri yanng diceraiakn oleh suaminya dalam keadaan belum disetubuhi, maka tidak ada masa iddah baginya. Masa iddah adalah masa menunggu bagi seorang wanita yang diceraikan suaminya, sebelum wanita tersebut dibolehkan kawin lagi dengan laki-laki lain.

Berkenaan dengan ayat di atas, Hamzah dan al-Kisa’iy, membacanya dengan (مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمآسُّوهُنَّ), sementara Ibn Kasir, Abu ‘Amer, Ibn ‘Ashim, dan Nafi’ membaca : (مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ). Perbedaan bacaan tersebut tidak menimbulkan perbedaan maksud atau ketentuan hukum yang terkandung di dalamnya.

3. Pemakaian Qira’at Syaz dalam Istinbat Hukum
Tidak hanya qira’at mutawatir dan masyhur yang dapat dipergunakan untuk menggali hukum-hukum syar’iyah, bahkan qira’at Syaz juga boleh dipakai untuk membantu menetapkan hukum syar’iyah. Hal itu dengan pertimbangan bahwa qira’at Syaz itu sama kedudukannya dengan hadis Ahad (setingkat di bawah Mutawatir), dan mengamalkan hadis Ahad adalah boleh. Ini merupakan pendapat Jumhur ulama.

Ulama mazhab Syafi’i tidak menerima dan tidak menjadikan Qiraat Syaz sebagai dasar penetapan hukum dengan alasan bahwa Qiraat Syaz tidak termasuk al-Qur’an. Pendapat ini dibantah oleh Jumhur Ulama yang mengatakan bahwa dengan menolak Qira’at Syaz sebagai al-Qur’an tidak berarti sekaligus menolak Qiraat Syaz sebagai Khabar (Hadis). Jadi, paling tidak Qiraat Syaz tersebut merupakan Hadis Ahad.
Contoh penggunaan Qira’at Syaz sebagai dasar hukum adalah sebagai berikut :
1. Memotong tangan kanan pencuri, berdasarkan kepada qiraat Ibn Mas’ud dalam surat al-Maidah ayat 38, yang berbunyi :
وَالـسّـَارِقُ وَالسّـَارِقَـةُ فَاقْـطَـعُـوا أَيْـمـانيَهُمَا
Artinya:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan kanan keduanya”

Dalam Qiraat yang shahihah ayat tersebut berbunyi :
وَالـسّـَارِقُ وَالسّـَارِقَـةُ فَاقْتطَـعُـوا أَيْـدِيَـهُتمَـا
2. Mazhab Hanafi mewajibkan puasa tiga hari berturut-turut sebagai kafarah sumpah, juga berdasarkan kepada qiraat Ibn Mas’ud dalam surat al-Maidah ayat 89, yang berbunyi:
فَـمَـنْ لَـمْ يَجـِدْ فَـصِيـَامُ ثَلَاثَـةِ أَيَّـامٍ متتتلـبعات
Artinya :
“Barangsiapa tidak sanggup melakukan demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari berturut-turut”

Dalam qira’at yang shahihah ayat tersebut berbunyi :
فَـمَـنْ لَـــمْ يَـجِـدْ فَـصِـيَـامُ ثَـلَاثَـةِ أَيَّـامٍ
Sya’ban Muhammad Ismail, mengutip pernyataan Abu ‘Ubaid, menyatakan bahwa tujuan sebenarnya dari Qiraat Syaz adalah merupakan Tafsir dari qiraat shahih (masyhur) dan penjelasan mengenai dirinya. Huruf-huruf tersebut harakatnya (lafaz Qira’at Syaz tersebut) menjadi tafsir bagi ayat al-Qur’an pada tempat tersebut. Hal yang demikian ini, yaitu tafsir mengenai ayat-ayat tersebut, pernah dikemukakan oleh para Tabi’in, dan ini merupakan hal yang sangat baik.
Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan al-Suyuti, sebagai berikut :
“Jika penafsiran itu dikemukakan oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad  yang benar, yang kemudian menjadi bagian dari qiraat al-Qur’an itu sendiri, tentu tafsir ini lebih tinggi nilainya dan lebih kuat. Mengambil kesimpulan hukum dari penafsiran yang dikemukakan Qira’at Syaz ini adalah suatu pengejawantahan yang dapat dipertanggung jawabkan.”

Tanda-tanda Baca Al-Qur’an

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakr ra, Al-Quran ditulis dengan memakai khat kufi. Yaitu sebuah model khat yang sedang masyhur saat itu. Tulisan pertama Al – Quran masih polos tanpa ada tanda harakat ataupun titik.
Ketika Islam mulai tersebar ke segenap penjuru Arab, timbullah beberapa kekeliruan dalam membaca Al – Quran. Hal ini karena  beragamnya dialek yang dimiliki oleh masing-masing qabilah. Akhirnya pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (40-60 H), Abu Aswad Ad-Duali memprakarsai pemberian tanda-tanda harakat untuk Al-Quran. Akan tetapi  tanda – tanda harakat   tersebut tidak sama dengan harakat yang kita kenal saat ini.  Pada masa itu harakat “Fathah” ditandai dengan titik  berwarna merah yang  diletakkan  di atas hurufnya. “Dhammah” ditulis  dengan titik yang ada di depan hurufnya, “Kasrah” ditulis dengan titik yang terletak  di bawah  dan “Tasydid” dilambangkan dengan titik dua di atas huruf.
Sekitar tahun 65 – 86 H, Khalifah  Abdul Malik bin Marwan atas saran Hajjaj bin Yusuf mulai memberi tanda titik pada huruf-huruf Al – Quran. Ia menugaskan Yahya bin Ya’mar dan Nashar bin Ashim yang merupakan murid Dari Abu Aswad Ad_Duali.
Tanda-tanda yang sudah ada pun dirasa masih kurang cukup. Dimana dengan tanda – tanda tersebut seringkali masih diketemukan terjadi kekeliruan dalam membaca al-Quran, terutama panjang – pendeknya bacaan. Maka pada tahun 162 H, Imam Khalil bin Ahmad yang tinggal di Bashrah memberi tanda yang lebih jelas. Ia memperbaharui tanda-tanda yang telah ditulis oleh Abul Aswad Ad_Duali. Dan hasilnya adalah seperti tanda-tanda Al-Quran yang kita ketahui saat ini.
Adapun perubahan khat Al Quran terjadi pada masa Al-Wasil ibnu Muqlah (272 H), seorang menteri pada Dinasti Abbasiyah. Dialah orang yang dikenal pertama kali menulis Al Quran dengan berbagai macam khat, termasuk diantaranya khat Al Quran yang kita pakai sekarang ini.
Sedangkan yang membagi Al Quran menjadi 30 juz adalah Hajjaj bin Yusuf. Ia juga memberikan tanda “Nishf” (separuh) dan “Rubu’_” (seperempat) dalam mushaf Al Quran.

Demikian pembahasan ringkas dari ilmu tajwid yang dapat penyusun paparkan, mudah-mudahan usaha yang kecil ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua , Amiin.