1. Pentingnya Dakwah Tauhid

Mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (baca: dakwah) adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Bagaimana tidak, sebab hal itu menjadi cerminan kepedulian seorang insan terhadap kebahagiaan sesamanya. Terlebih lagi dengan dakwah, manusia akan tersadar akan hikmah penciptaan dirinya.

Allah Ta’ala berfirman :

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (Al Quran surat Adz Dzariyat ayat 56).

 

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah inilah jalanku, aku mengajak kalian untuk mentauhidkan Allah, dengan berlandaskan bashirah. Inilah sikapku dan sikap orang-orang yang mengikutiku. Dan Maha suci Allah, aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Al Quran surat Yusuf ayat 108).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah ilallah dan beramal saleh, dan dia mengatakan bahwa saya termasuk golongan orang-orang muslim.” (Al Quran surat Al Fushshilat ayat 33).

Sebagaimana dakwah para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam, dakwah tauhid merupakan inti dakwah agama Alloh Subhanahu wa ta’ala, karena tauhid merupakan kewajiban pertama dan terakhir setiap manusia. Karena perkara inilah Allah Ta’ala mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya. Oleh karena itu, sebagai umat Islam maka wajib bagi kita untuk mempelajari dan memahami masalah tauhid, urgensi tauhid, konsekuensi kalimat Laa ilaaha illallah, bahaya syirik dan pelakunya.

Selama 13 tahun di Mekkah, Rasulullah selalu berkata kepada manusia: “Ucapkanlah La ilaa ha illallah, pasti kalian beruntung.” Da’wah dan tarbiyah haruslah dimulai dengan pemantapan tauhid di hati masyarakat.

Allah Ta’ala berfirman :

 

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al Quran surat Al Jumu’ah ayat 2).

 

2. Pentingnya Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah sebuah bahasa yang telah Allah jadikan sebagai bahasa al-Quran, kitab yang paling agung dan senantiasa dijaga oleh-Nya ‘Azza wa Jalla sampai kiamat.

 

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya.” (Al Quran surat Az Zukhruf ayat 3).

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab-Nya dengan bahasa ‘Arab dan menjadikan Nabi-Nya penyampai Al-Qur’an dan As-Sunnah dari-Nya dengan bahasa ‘Arab, menjadikan orang-orang yang pertama kali masuk Islam berbicara dengan bahasa itu. Maka tidaklah agama dipahami dengan baik dan benar kecuali dengan mempelajari bahasa ‘Arab. Sehingga mempelajarinya termasuk bagian agama dan jadilah kebiasaan berbicara dengannya lebih memudahkan bagi pemeluknya dalam memahami Islam. Lebih dekat pada penegakan syi’ar-syi’ar agama serta lebih dekat pada mencontoh generasi pertama yang memeluk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dalam seluruh urusan agama mereka. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.

Dorongan untuk belajar bahasa arab bukan hanya khusus bagi orang-orang di luar negara Arab. Bahkan para salafush sholeh sangat mendorong manusia (bahkan untuk orang Arab itu sendiri) untuk mempelajari bahasa arab.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqitdha)

‘Umar radhiallahu ‘anhu juga mengingatkan para sahabatnya yang bergaul bersama orang asing untuk tidak melalaikan bahasa arab. Ia menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Adapun setelah itu, pelajarilah Sunnah dan pelajarilah bahasa arab, i’rablah al-Qur’an karena dia (al-Qur’an) dari Arab.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Bahasa arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa arab), maka ia (mempelajari bahasa arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah 1/527 dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari Hasan Al-Bashari, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.” (Mafatihul Arrobiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari as-Sya’bi, “Ilmu nahwu adalah bagaikan garam pada makanan, yang mana makanan pasti membutuhknanya.” (Hilyah Tholibul ‘Ilmi, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Bahasa Arab adalah ilmu yang menjadi sarana untuk memahami cabang-cabang ilmu syariat yang lain. Karena itulah, kita sepatutnya bersungguh-sungguh mengejar ilmu bahasa Arab di jalan manapun yang kita susuri. Namun, tetap harus diingat bahwa ilmu adalah makanan (bagi jiwa), maka harus diperhatikan dari siapa ilmu bahasa Arab kita peroleh. Pemilihan guru yang lurus akidahnya dan bersih pemahamannya tentang Islam merupakan hal yang sangat penting. Sungguh banyak orang yang pandai berbahasa Arab, tetapi kepandaiannya itu justru menyesatkannya semakin jauh dari jalan kebenaran, karena ilmu tersebut diperolehnya dari orang-orang yang tidak lurus aqidahnya dan sungguh buruk pemahamannya tentang Islam.